Jumat, 31 Mei 2019

Bengkel Logika

Penulis : Siti Nur Mukarromatun Nisa
Siswa SMP Plus Nu 02 Al Khikmah Soko, Tuban – Jawa Timur

Bagiku sekolah seperti bengkel. Tempat memperbaiki mobil-mobil yang rusak, sepeda ontel, motor dan lain-lain. Baik dari kalangan atas maupun bawah. Dari tuan kaya maupun rakyat biasa. Mereka tak pernah pilah-pilah pelanggan.

Aku sekolah karena karena Islam memerintahkan untuk menuntut ilmu dari belaian ibu hingga ke liang lahat. Nabi Muhammad S.A.W pernah bersabda, “tuntutlah ilmu walau sampai di Negeri Cina”. Seperti sekolah yang baru saja berdiri empat tahun lalu, SMP Plus NU 02 Al Khikmah.

SMP NU itu berdiri kokoh di Jl. Bengawan No. 72 Desa Sokosari Kecamatan Soko Kabupaten Tuban. Didirikan oleh putra Kyai Haji Nur Hasyim yakni Pak Kyai Ali Mufti Hasyim bersama istri beliau Bu Nyai Fatimatuz Zahra binti Kyai Minan Nur Rahman(Alm).

Meski baru empat tahun berdiri serta meluluskan satu alumni, bengkel ini telah banyak memperbaiki berbagai macam kendaraan dan berbagai macam kerusakan. Lalu, mengapa kebanyakan bengekel-bengkel favorit memberikan ujian sebelum memasukinya? Padahal memperbaiki adalah yang rusak. Lalu jika dipilah-pilah, bagaimana nasib kendaraan yang rusak parah? Sampai kapan pun mereka tak akan diperbaiki.

Jika banyak generasi Indonesia yang tidak lulus ujian masuk sekolah, maka banyak genersi Indonesia yang bodoh. Tak mengenal bangku sekolah, tak mengenal sejarah. Tapi sekolah NU kok mau berbeda dengan yang lain!

Pak Kyai tak mengadakan ujian masuk sekolah. Karena menurut beliau semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan, demi sebuah masa depan bangsa dan agama.

Beliau pun tak pernah sepeser pun meminta bayaran kepada tuan pemilik kendaran-kendaraan itu. Beliau ikhlas memperbaiki kendaraan itu, hingga siap menjadi kendaraan yang bisa berjalan menuju jannah-Nya. Bahkan untuk fasilitas, beliau tanggung sendiri. Beberapa masyarakat juga turut membantu perjuangan Pak Kyai.

Jika semua bengkel di Indonesia tidak pilah-pilah tuan maupun kendaraan, alangkah cerdasnya para generasi bangsa. Tak ada anak gelandangan atau pun pengemis yang tak tahu pendidikan. Tak ada lagi kata bodoh dalam kamus kehidupan negara.

Mengapa bengkel yang baik hanya mau memperbaiki kendaraan yang baik? Padahal melakukan kebaikan terhadap orang baik adalah hal yang biasa. Namun melalukan kebaikan kepada orang jahat adalah hal yang luar biasa.

Nabi Muhammad pernah bersabda,”sampaikanlah kebaikan walau satu ayat”. Sabda itu untuk semua orang tanpa terkecuali. SMP ini adalah salah satu bengkel yang memperbaiki semua kerusakan tanpa memandang tuan. Meski baru saja berdiri namun sekolah ini telah melahirkan banyak generasi cerdas. Terutama dalam bidang dakwah. Gedung ilmu itu mengajarkanku untuk berdakwah bukan hanya dengan lisan namun juga tulisan. Hal itu direalisasikan dengan pelatihan kepenulisan.

Istiqomah itu berbuah manis. Karena istiqomah lebih baik dari seribu keramat. Banyak siswa Al-hikmah yang mampu berdakwah, menyampaikan ajaran Rasulnya, mengubah adat buruk dunia, bukan dunia yang mengubah adat mereka.

Tak hanya dalam bidang kepenulisan, para kendaraan Al Khikmah yang terdiri dari berbagai macam kekurangan juga mahir dalam bidang-bidang lain. Seperti TIK, pencak silat, agrobisnis ternak unggas, sablon dan lain-lain. Tak kisah muda atau tua, mewah atau sederhana bengkel itu yang penting adalah pendidikannya. Juga memperbaiki dengan ikhlas dan sabar, berbagai macam kendaraan dengan berbagai macam kerusakan.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon