Jumat, 31 Mei 2019

Cerita Dibalik Hijab


Hari demi hari telah berlalu, tahun telah berganti. Gadis yang berhijab puutih itu sudah beranjak remaja. Dan kini tinggal kuliahnya saja. Tapi, sayang gadis yang cantik dan berkulit putih itu hanya tinggal sendiri. Maklum,orang tuanya sudah bercerai disaat dia berumur 15 tahun. Hasna sekaligus guru mengaji di musholla. Ia mengajar mengaji tidak sendirian. Melainkan, ditemani oleh sahabatnya, Anton.

Sore itu Hasna datang ke rumah Anton untuk mengajak Anton mengajar anak-anak mengaji. Saat itu Hasna datang dengan penampilan yang berbeda tidak seperti biasanya sehingga Anton terpukau dengan penampilan yang berbeda.

Tok, tok, tok… suara ketokan pintu.

“assalamu alaiku…Ton, Anton… ngajar yuk ton,” kata Hasna sambil mengetuk pintu.

“wa alaikum salam, ya,.. ya,.. Na bentar,” jawab Anton sabil memakai kopyah berwarna hitam.

Sesampai di depan pintu, Anton membuka pintu dan ia terkejut melihat penampilan Hasna yang berbeda.

“Hey.. Ton lama banget sih, kamu bukain pintunya????” tanya Hasna kepada Anton.

Namun, Anton terdiam tidak menjawab pertanyaan Hasna.

“Subhanallah,sungguh indah dan cantik ciptaan Tuhan, tidak seperti biasanya penampilan Hasna seperti ini,” ucap Anton dalam hati.

“woy, Ton, kenapa kamu ngelamun? Pangling ya, lihat penampilanku yang tidak seperti basanya” tanya Hasna dengan rasa PD.

“Ye,..Sok kamu, ke-PD an banget sih kamu Na,” jawab Anton ketus.

“He-he-he, tapi benerkan Ton? Tanya Hasna lagi.

“Ya,,,emang sih, kau kalo gitu cantik Na” jawab Anton dalam hati.

“udah, udah nggak usah dibahas lagi, ayo kita ke musholla udah ditungguin sama anak-anak. Ayo Na,” jawab Anton dengan alasan untuk menjauhi pertanyaan Hasna.

“alasan doang kamu Ton,” kata Hasna di dalam hati.

“heh,kok ngelamun? Ayo Na, ayo cepat nanti kita telat,”

“hah.. oh, ya ya, ayo,” jawab Hasna.

Musholla dari rumah Anton tidak jauh. Cuma sekitar 2 meter dari rumah Anton.

“assalamu alaikum..anak-anak,” ucap Hasna pada murid-muridnya.

“wa alaikum salam Kak Hasna, kak Anton,” jawab para santri serentak.

“kalian sudah lama, nungguin kakak Hasna sama kak Anton ??”

“enggak kok kak, kita bau sampai di sini.”

“ooo…gitu, ya udah ayo kita mulai ngajinya kita berdoa dulu ya anak-anak. Kakak Anton tolong dipimpin doanya,” kata Hasna menyuruh Anton untuk memimpin doa, namun Anton tersenyum.

******
Mengajar mengaji sudah selesai, kini tinggal Anton dan Hasna yang di musholla, mereka sengaja pulang belakang karena mereka sedang bersih-bersih musholla.

“udah selesai, ayo kita pulang ,” ucap Anton kepada Hasna .

“udah, ayo pulang Ton,” jawab Hasna kepada Anton.

“eh gantian dong Na, tadikan kamu yang jemput aku, nah sekarang aku yang nganterin kamu pulang, bolehkah Na?”

“iya, boleh kok,” jawab Hasna.

*****

Sesampai di depan rumah Hasna, Hasna mempersilahkan Anton untuk mampir dulu ke rumah. Tetapi Anton menolak.

“Eh Ton, nggak masuk dulu, minum atau istirahat gitu?” tanya Hasna kepada Anton.

“oh, nggak usah terima kasih banyak Na, aku takut kalau nanti kita di dalam hanya berdua saja, nanti malah jadi fitnah yang enggak-enggak lagi,” jawab Anton.

“oh, gitu ya, kalau gitu aku masuk ke dala dulu ya,”

“sekalian aku mau pulang Na, Assalamu alaikum”

“Wa alaikum salamwr. Wb.,” jawab Hasna dengan spontan lengkap.

Dengan begitu, Anton pun pulang ke rumah. Anton mendapatkan sms dari tetangga yang tertuliskan “ibumu sakit, ia minta kamu pulang sekarang juga.” Anton pun bergegas memasukkan baju-baju ke dalam tas. Dalam keadaan gugup, Anton tidak bisa memberitahu kepada Husna kalau orangtuanya itu sakit, dan ia akan pulang untuk beberapa hari.

*****
Dua hari Anton meninggalkan Husna. Husna bingung mencari Anton.

“duh Anton kemana sih, dua hari nggak bantuin aku ngajar anak-anak ngaji. Aku sampek kuwalahan ngajar sendirian. Tanya tetangga nggak ada yang tahu, ditelpon nggak diangkat. Mau tu orang tu apa sih? Bingung aku,” ucap Husna sendiri sambil menendang-nendang kaleng.

“em, tanya orang lagi ah, siapa tahu ada yang tau,” gumam Hasna.

“Mas-mas numpang tanya, Anton itu kemana ya? Kok dua hari rumahnya dikunci?” tanya Hasna kepada tetangga Anton.

“maaf mbak,saya kurang tahu, saya cuma tahu kemarin mas Anton bawa tas dan naik ojek. Kalau mbak ini mau tahu mas Anton. Coba cek deh di kamarnya, mesti ada surat di sana.” Jawab tetangga Anton.

“oh ya, bener juga, ya udah ya terima kasih ya mas,”

“sama-sama mbak,” jawab tetangga Anton.

Hasna pun lari kerumah Anton dan mencari jendela kamar Anton untuk ia masuk kamar.

“alhamdulilah ini jendelanya, masuk ah” ucap hasna sendirian

Hasna pun masuk kamar melalui jendela kamar Anton dan ia pun mencari-cari surat disela-sela kamar, ia pun tak lupa membuka semua almari Anton. Hasna tidak menemukan surat tetapi ia menemukan buku harian berwarna biru.

“apa ini? O…buku hariannya si Anton” ucap Husna

Kemudian Husna membuka buku harian itu dan membacanya, sedangkan buku harian itu tertuliskan.

Dibalik hijab mu,aku menyukaimu

Seandainya kamu tau apa isi hatiku padamu

Engkau pasti menolakku mentah mentah

Aku dengan sengaja tidak memberitahumu

Bahwa aku mencintaimu sejak dulu

Tetapi kamu tidak sadar apa yang aku rasakan

Sa’at kumelihatmu dengan pria lain

Hati ini merasa iri sa’at kau dekat dengan pria lain

Sa’atku di depanmu aku pura pura sok lugu dan pendiam

Setiap pulang mengajar mengaji

Aku menulis dirimu di dalambuku biru ini

Aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku selama ini

Tetapi yang pasti

Aku akan tetap mencintaimu

Biarlah waktu yang menjawab

Hasna pun menangis sa’at membacabuku harian itu. Hasna pun bergegas dan meninggalkan kamar Anton yang berantakan itu.

***

Begitu pula dengan anton yang sudah pulang dari kampung halaman sehingga ia tidak menghubungi Hasna dimana ia berada sekarang.

“astaghfirullah, aku lupa, aku taruh buku harianku itu didalam almari. Aku takut kalau husna masuk ke kamarku, terus dia pasti tau kalau akupunya perasaan padanya. Eh, smoga saja Hasna tidak masuk ke kamarku”ucap Anton sekaligus mengucapkan istighfar. Saat Anton menyadari bahwa buku harian itu, tiba tiba ibu dan bapaknya datang dari bilik pintu.

“Ton, ibu dan bapak ingin menjodohkanmu denagn pilihan ibu dan bapak. Semoga kamu cocok dengan wanita pilihan kita Too”kata ibunya bermaksud ingin menjodohkkannya.

“ibu…bapak…, Anton itu sudah besar, Anton bisa memilih calin istri sendiri lai pulaAnton punya selera wanita yang tinggi, siapa tahuu kalau Anton dijodohin sama pilihan bapak dan ibu kalau nggak cocok sama Anton, yang ada Anton malah kabur. Lagi pula Anton sudah punya calon istri kok Bu”jawab Antondengan sedikit mengelak dari perjdohan itu.

“baiklah kalau begitu, bapak punya syarat, apabila dalamwaktu 2 bulan ini kabu belummenikah dengan pilihanmu, terpaksa bapak dan ibu akan terus melanjutkan perjodohan itu” ucap bapak Anton.

“baiklah pak, Anton setuju denagn syarat bapak” jawab anton dengan sedikit pasrah.

***
Satu bulan sudah terlewati kini Anton pun belum menikah denagan wanita yang diidamkan itu

“ waktuku tanggal 29 hari lagi aku harusmenghubungi Hasna, sekarang juga” ucap Anton sambil mondar mandir. Sa’at Anton hendak menghubungi Hasna tiba tiba Hasna muncul di hadapan Anton.

“ Antonkamu tu keterlaluan benget ya, pulang kampung nggak ngasih tau orang, di telfon nggak diangkat, di SMS juga nggak dibales, mau kamu tuu apa sih?” protes Husna kepada Anton

“ woy…woy… ngomng nggak ada titik komanya, dengerin dulu penjelasan aku na. Aku pulang kampung tu dapat kabar kalau ibu aku sakit keras, makanya ku nggak telfon kamu, nggak SMS kamu” jelas Anton kepada Husna.

“ Ton aku tu kemari masuk kamar kamu lewat jendela dan aku disana nemuin buku warnanya biru” ucap Husna.

“ tu kan bener apa aku bilang , Hasna masuk kamarku, pasti dia tau perasaanku yang sebenarnya” gumam Anton didalam hati.

“ wooyy…Ton kok ngelamun sih kamu”

“ hah…enggak kok, aku nggak ngelamun. Eh Hasna kamu baca nggak buku harian itu?” tanya Anton dengan rasa malu.

“ iya aku baca buku harian kamu, memangnya kenapa Ton?” tanya Hasna.

“ aduh… duduk dulu Hasna biar aku jelaskan semuanya” ucap Anton ketikan mengajak Hasna duduk. Mereka pun duduk dibawah pohin mangga.” Hasna sekarang kamu sudah tau perasaanku kepada kamu Hasna” jelas Anton.

“ terus” ucap hasna bingung.

“ aku tuu sebenernya mau dijodohin sama orang tuaku, tapi aku tolak perjodohanku itu, aku bilang kalau aku sudah punya calon istri pilihanku sendiri, dan orang tuaku memberiku waktu 2 bulan untuk bisa membawa calon istriku pulang, tapi kalau aku gagal membawanya pulang perjodohan itu akan dilanjutkan kembali dan orang tuaku menyetujuinya” jelas Anton kepada Hasna.

“ lalu mana calon istrimu” Hasna bertanya kepada Anton.

“sekarang calon istriku ada di depan mataku ini”kata Anton semakin membingungkan

“ hah aku? Maksud kamu apa Anton?” Hasna semakin kebingungan.

“ maksud aku, Hasna kamu mau nggak jadi istri aku?” Anton memberanikan diri untuk melamar Hasna.

“ eeemm mauu nggak ya?”

“mau ya Na… please mau yaa?” kata Anton memaksa.

“ ih kamu kok sewot sih Ton”

“tapi mau kan??”

“iya aku mau kok”

“ alhamdulilah hirobbill alamin, ya udah ayo kita kerumahku akan aku kenalin kamu sama orang tuaku” ucap Anton dengan penuh semangat

“ ayo” jawab Hasna

Mereka pun pergi kerumah Anton Untuk menemui orang tua Anton.

***

Sesampainya di rumah, Anton memperkenalkan Hasna kepada orang tuanya.

“assalamu alaikum” salam Anton.

“Wa alaikum salam, lho Anton ini siapa?” tanya ibu Anton.

“ini lho bu, yang Anton maksud, ini calon istri Anton,” jawab Anton.

“oo… ini tho,cantik banget,”

“bu,” ucap Hasna kepada ibunya Anton, dan tak lupa Hasna mencium tangan Ibu Anton.

"Nama saya Hasna,” jawab Hasna.

“o.. Hasna, nama yang bagus itu, eh ya, udah kita maksud kalau gitu kita masuk ya” ucap ibunya Anton mempersilakan Hasna masuk. Lalu, merekapun masuk ke rumah.

Saat mereka masuk rumah, bapak Anton kaget melihat Hasna.

“lho, Ton, ini siapa?” tanya bapak.

“ini calon istri Anton, sekaligus calon menantu kita pak,” jawab ibu Anton.

“o…namanya siapa nak cantik?” tanya bapak.

“bapak ini tanya kayak wartawan, namanya ini Hasna” jawab ibu.

“o..Hasna,” dan tak lupaHasna pun mencium tangan bapak Anton.

“Baiklah, sesuai kata bapak, perjodohan bapak batalkan,” timpal bapak.

“oh, ya, dan kapan kalian akan menikah?” tanya bapak.

Saat bapak mengatakan itu, Hasna dan Anton pun saling berpadang – memandang.

“Em… kita terserah bapak aja,” jawab Anton.

“baiklah minggu depan kalian harus menikah,”

“hah, secepat itu,” tanya Husna.

*****
Hari bahagia sudah terlaksanakan, mereka pun menikah dan membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sesudah menikah, Anton dan Hasna pun hidup bersama. Hasna pun merasa bahagia hidup dalam keluarga yang sederhana itu.

******

Oleh: Putri Hasna Lia

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon