Jumat, 31 Mei 2019

Cerita Pendakian Gunung Merbabu via Selo

Tags


Assalamualaikum

Teman-teman perkenalkan nama saya Arif Sudaji. Kali ini saya akan berbagi cerita yang bisa membuat bulu kuduk kalian berdiri. Cerita ini saya alami saat pendakian yang kesekian kalinya dengan Sepupu saya yang bernama Ihdinan Naim. Kami setunggal embah (nenek) dari ibu.

Tepat bulan September 2018 kami berangkat berdua dari rumah mbah kami. Selagi pamitan, kami dibekali makanan untuk bekal perjalanan nanti.

Pukul 09.00 wib. Kami berdua berangkat dari rumah, jarak tempuh kami memakan waktu empat jam dan disetiap satu jam kami istirahat, dikarenakan kami boncengan menggunakan sepeda motor serta bawaan kami dua tas carrier ukuran 60 ltr, penuh perlengkapan mendaki. Perjalanan kami sama seperti pendaki pada umumnya, namun satu yang berbeda. Tak perlu kujelaskan karena dengan itu kami percaya akan mampu berjaga-jaga setiap ekspedisi kami.

Tiba di Kabupaten Boyolali pukul 13.30 wib. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke base camp Selo sampai 15.00 wib. Sebelum mengisi simaksi (surat izin masuk kawasan pendaki) kami sempatkan mampir di base camp Pak Subari yang terkenal itu. Kami membeli segala keperluan logistik untuk bekal mendaki nanti.
Wisata pendakian memang tak memakan uang banyak, cukup membayar 10.000/orang, kita sudah bisa sepuasnya menghabiskan waktu mendaki sampai puncak, asal membawa bekal yang cukup .

Perjalanan kami mulai dari pos satu berjalan dengan biasa-biasa saja. Waktu pada kala itu sudah hampir pukul 16.00 wib, karenanya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di pos dua sambil ngobrol-ngobrol sembari menikmati rokok, karena perjalanan masih jauh.

Tak terasa hampir 45 menit kami beristirahat, langit pun sudah mulai gelap. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan meski hari sudah sore.

Perjalanan antara pos 1 – 2 memakan waktu sekira 1 jam 45 menit dan itu kami tempuh ditengah hutan hanya berdua saja. Memang tak ada yang janggal selama kami berjalan naik turun. Kanan kiri pepohonan kanan jurang yang dalam tak tahu berapa kedalamanya.
Ditengah perjalanan antara pos 1-2 gelapnya langit menyapa dan kami memutuskan istirahat serta untuk sembahyang (sholat). Kami tayamum karena tidak ada air di sekitar area berhenti. Selesai sholat kami beristirahat. Sambil nyemil bekal yang kami bawa, aku mengambil senter untuk membunuh pekatnya malam kala itu.

“Perjalanan Hampir sampai pos dua. Kita tidak boleh mengeluh meskipun sudah letih,” kataku.

Dalam perjalanan mendekati pos dua, aku mendengar beberapa suara dari atas. Ternyata teman-teman pendaki lainnya sudah ada disana. Bertemu dengan pendaki lain seakan memberi energi baru dan memotivasi diriku untuk menuntaskan pendakian ini sampai ke puncak.

Kami istirahat secukupnya di pos dua lalu melanjutkan hingga pos tiga. Jarak pos dua ke pos tiga itu memakan waktu satu jam. Perjalanan kami tempuh melewati hutan, dengan kemiringan 45°. Bisa bayangkan nggak teman-teman? Malam hari, bawaan berat berjalan berduaan. Dan tidak ada siapa-siapa lagi. Tapi semangat tidak boleh padam. Keep going on!

Sungguh berat sekali malam itu, entah kenapa. Ini bukan pertama kali kami summit malam-malam seperti ini. Kala itu aku memakai jeans casual robek-robek dilutut (biasa anak muda). Hingga pada akhirnya aku merasakan sesuatu yang mengganjal. Setiap sepuluh menit perjalanan, nafasku selalu terengah-engah.

“Mas mas! break break mas,” kataku sambil terengah.

“Iyo dek,” kata mas naim dalam Bahasa Jawa.

“Berat mas,” kataku berbicara pada Mas Naim.

Pendakian malam itu terasa berat sekali. Namun tak pikir panjang, setelah mendapatkan istirahat yang cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali. Namun terulang lagi, aku meminta break karena berat sekali entah kenapa pada saat itu. Padahal pos tiga sudah terlihat.

Akhirnya aku putuskan untuk ganti celana dari jeans robek kebanggaanku tadi dengan celanaku yang lain. Kali ini jenisnya parasut. Ternyata setelah ku ganti celana, langkahku semakin enteng. Apakah berat jenis celana mempengaruhi pendakian ini pikirku. Atau mungkin karena faktor kelelahan, juga sepinya berjalan berdua ditengah hutan.

Akhirnya tepat pukul 22.00 wib kami sampai di pos tiga dan disambut puluhan tenda berdiri dengan suara dengkuran di dalamnya. Hahaha!

Kami dirikan tenda dan bongkar-bongkar perlengkapan, kemudian memasak dari bekal yang kami bawa tadi lalu istirahat. Malam ini aku putuskan istirahat untuk mengisi tenaga guna melanjutkan pendakian keesokan harinya.

Bersambung…



penulis: Arif Sudaji

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon