Jumat, 31 Mei 2019

Dibawah Langit Bumi Wali


Penulis : Siti Nur Mukarromatun Nisa
Siswa SMP Plus Nu 02 Al Khikmah Soko, Tuban – Jawa Timur

Hamparan pasir putih terbentang luas. Berjumpa dengan ombak yang menenangkan. Berpadu dengan mega merah yang seakan bersatu dengan samudera. Ditemani hembusan angin yang merasuk ke pori-pori. Derap langkah semakin tenang, seakan tak perduli dengan rintangan dalam menjemput masa depan. Disini, dia menggandengku erat, tak mau melepas meski hanya sekejap.

Suasana semakin teduh seiring berjalannya waktu. Matahari telah melambaikan tangan untuk pergi.

Mega merah semakin cantik menemani perjalanan sang surya ini. Suasana inilah yang aku tunggu, sunset. Pemandangan yang amat kurindu di Pantai Boom Tuban. Pantai yang terletak di seberang makam waliyullah yang mulia, dimana kami selalu mengunjungi tempat ini setelah berziarah di makam Sunan Bonang.

Kami duduk di tepi pantai. Masih seperti tadi, dia enggan melepas tanganku. Mungkin lama tak berjumpa. Jarak memang telah memisahkan kami selama tiga tahun. Aku yang sekolah di Pulau Sumatera, baru bisa berkunjung setelah ujian usai. Tentu kesini, di Pulau Jawa, tempat kampung halaman orang tua, serta menanti waktu untuk bersua dengan dia. Rasanya tak pernah reda aku bahagia, dengannya disini.

“Jadi ingat waktu dulu ya dek!,” katanya sambil menatap langit sore itu.

“Masih sama. Tidak banyak yang berubah”.

Aku hanya terdiam sambil mendengarkan ucapannya yang terdengar lembut padaku. Kemudian kami beranjak menuju relief kisah Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang berada setelah pintu masuk pantai ini.

“Dek, yang diujung utara itu menggambarkan Raden Said yang menyedekahkan hasil rampoknya untuk orang tidak mampu,” jelasnya seraya menunjuk gambar tiga dimensi itu.

“Dari kisah itu, kita dapat mengambil pelajaran kehidupan bahwa perbuatan yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Meski niatnya baik tapi prosesnya buruk, itu tetap tidak diperbolehkan dalam Islam,” sambungnya.

Dia memang selalu menerangkan sebelum aku mengajukan pertanyaan.

“Suatu hari Raden Said bertemu dengan Sunan Bonang. Mata Raden Said berbinar ketika melihat tongkat emas Sunan Bonang. Sontak Raden Said meminta tongkat tersebut. Sunan Bonang menunjukkan buah emas yang bergelantungan di pohon sebelahnya. Sontak Raden Said pun memanjat untuk memetik buah-buah itu. Namun ketika berada di atas buah itu berubah menjadi buah biasa. Buah yang dikenal dengan nama kolang kaling.

Raden Said turun kembali dan protes kepada Sunan Bonang. Lantas Sunan Bonang menunjuk lagi ke atas dan buah kolang kaling itu nampak seperti emas. Raden Said langsung tergugah dan menaiki pohon itu. Tapi setelah berada di atas emas itu berubah lagi menjadi buah kolang kaling biasa. Kejadian ini terjadi hingga tiga kali.

Karena tidak sabar, Raden Said akhirnya mengambil tongkat emas itu. Menyebabkan Sunan Bonang terjatuh dan menangis. Raden Said kaget, padahal tidak ada luka pada diri Sunan Bonang.

“Wahai orang tua, mengapa anda menangis? Padahal tak ada satupun luka pada diri anda,” tanya Raden Said cemas.

“Aku menangis bukan karena rasa sakit tapi karena rasa bersalah, sebab aku hampir saja menginjak semut,” jawabnya.

Jawaban Sunan Bonang membuat hati Raden Said luluh. Padahal semut itu tak terinjak. Saat itu iuga Raden Said meminta maaf dan ingin berguru dengan Sunan Bonang.

Nah itu arti relief yang kedua,” terang Kak Syafi’.

Dengan menerawang ke angkasa, dia melanjutkan kisah itu. Relief selanjutnya menunjukkan pengabdian Raden Said terhadap gurunya. Dia bertapa di tepi sungai hingga Sunan Bonang kembali. Bertahun-tahun lamanya Sunan Bonang meninggalkan muridnya hingga ia lupa bahwa seorang muridnya menunggu dalam pertapaan. Setelah beberapa tahun, akhirnya Sunan Bonang ingat akan muridnya tersebut. Segera dia menemuinya. Terlihat tubuhnya telah menyatu dengan tetumbuhan. Dibangunkannya murid itu dari pertapaan suci.

Sejak itulah Raden Said memiliki julukan Sunan Kalijaga. Sunan yang termasuk wali sembilan.

Kami meneruskan langkah. Hingga terhenti oleh pertemuan Kak Syafi’ dengan temannya.

“Stop! Jangan kesana, berbahaya!” cegah lelaki tinggi ini.

Karena penasaran ada apa di belakang sana, aku mengintip untuk melihatnya. Kak Syafi’ segera menutup mataku yang masih berusia lima belas tahun. Tapi terlambat aku sudah mengetahuinya.

“Seharusnya nggak usah ngintip dek,” tegas Kak Syafi’.

“Sudah terlanjur. Toh aku juga tidak tahu kalau banyak orang pacaran di sana,” sanggahku.

“Ini pacarmu? Cantik sekali, hhhh,” lelaki itu mempertanyakan hal yang membuatku tidak nyaman.

“Dalam agama telah diterangkan dengan jelas, la taqrobuz zina, jangan mendekati zina,” tegas Kak Syafi’.

“Lalu gandengan tangan itu? Apakah itu halal?” tanyanya menunjuk tangan kami.

Sontak kami melepas tangan satu sama lain.

“Gandengan kami halal. Sebab kami sedarah. Dia adikku bro, Shasa. Anak kecil yang sering kau goda dulu,” jelas Kak Syafi’.

Sepertinya Kak Syafi’ juga risih dengannya.

“Hah, Shasa? Gadis mungil itu?

Cantik sekali sekarang. Setelah tiga tahun tak bertemu, ternyata dia semakin cantik,” kagetnya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Senyum terpaksa. Sekejap dia pamit dan meminta maaf.

“Tragis ya Kak, kita hidup di lingkungan wali dan ulama namun banyak saudara kita yang tak memiliki akhlak seperti nenek moyangnya,” ucapku seraya duduk di tepi pantai.

“Maka dari itu, kita harus membuat perubahan. Innal insana lafi khusrin illal ladzina amanu wa amilus shalihati wa tawa shawbil khaqqi wa tawa shawbis shabr, sesungguhnya manusia benar-benar merugi kecuali yang beriman, beramal shaleh dan saling menasihati supaya menempati kebenaran,” tuturnya.

“Ngunu a?” kataku memastikan dengan bahasa jawa.

“Serius dek aku”.

Aku tersenyum mendengarnya dan melihat wajah kesalnya.

“Bangga ya Kak, bisa hidup di kota yang memiliki julukan bumi wali,” kataku.

“Ini saatnya aku bercerita tentang sejarah Bumi Wali. Kamu pasti belum tahu kan?” remehnya.

“Siapa bilang aku nggak tahu. Emang kakak doank yang tahu sejarah, aku juga tahu,” kesalku.

Dia malah tertawa dan mecubit pipiku seraya berkata”gitu aja manyun, senyum donk nanti cantiknya berkurang”.

Aku memukuli pundaknya. Kesal yang bercampur senang ada dalam diriku setelah lama menghilang.

“Di Tuban banyak makam para wali, juga kisah-kisah perjuangan beliau. Seperti kisah Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga,” ujarku.

“Contoh yang lain seperti makam auliya Syekh Gentaru, Tuwiri Wetan, Merakurak, Syekh Ahmad bin Muhammad Ar Rozi di Bangilan, Mbah Jabar dan Mbah Ganyong di Singgahan, Mbah Bongok di Jetak Montong,” sambungnya dengan semua pengetahuan sejarah.

“Lohh, aku kok nggak tahu. Pokok besok kakak harus ajak aku ziarah kesana”.
“Boleh, apa yang nggak kakak lakukan untuk adik kakak yang cantik ini,” katanya sambil mencubit hidingku gemas.

Aku memeluknya erat dan berkata,”syukron kastir ya akhi kabirun”.

“Afwan ya ukhti shaghirun,” jawabnya.

Terlihat matahari telah tersenyum sebelum mengucapkan sampai jumpa pada kami. Kami segera berpose di bawah langit indah ini. Bertemankan perahu-perahu warna-warni milik nelayan. Di bawah langit merah orange bumi wali.

Kami melangkah untuk pulang. Terdengar suara adzan maghrib menggelegar. Kami mempercepat langkah untuk segera menunaikan kewajiban shalat.

Aku menggandeng tangannya erat karena takut. Ketika baru keluar dari Pantai Boom, ada orang mabuk. Dia sudah seperti orang gila. Berteriak-teriak tak tentu arah.

“Jangan takut, ada Allah. Ayo cepat,” tenang Kak Syafi’.

Dia menggegamku erat dan mengajak setengah berlari. Aku lihat orang itu memukul orang di sebelahnya hingga terjadi perkelahian. Sungguh susana yang begitu kejam. Suasana yang tak pernah aku lihat. Tapi banyak terjadi disini.

Usai shalat maghrib, Kak Syafi’ mengajakku makan. Di dekat makam Sunan Bonang banyak berjejer kios makan dan jajanan khas Tuban. Kami memilih tempat makan di dekat Masjid Agung. Sengaja, agar jika sudah maduk waktu isya’, kami langsung bisa shalat. Menu kesukaan kami dari dulu tak pernah berubah, ikan cumi dan kepiting merah. Aku selalu merindukan makanan ini saat di Sumatra.

“Kak, Tuban berjulukan sangat mulia, Bumi Wali tapi mengapa di sisi lain Tuban juga disebut sebagai Kota Toak, yang orang-orangnya berkepribadian jauh dari kepribadian para wali.”

Entah aku terpikir untuk melontarkan pertanyaan itu. Kak Syafi’ tersenyum. Mungkin dia senang aku bertanya, sebab aku jarang sekali bertanya tentang sejarah. Lagipula tanpa aku bertanya Kak Syafi’ sudah menjelaskannya.

“Memang ada yang mengatakan seperti itu dan bangga mempunyai julukan itu. Beda orang pasti beda pemikiran. Jika sudah seperti itu maka solusinya kembali ke surat al ashr, kita diperintah untuk saling mengingatkan. Mengingatkan dengan cara yang baik maka insya Allah hasilnya akan baik. Tugas kita adalah menghapus julukan Kota Toak itu. Namun bukan hanya julukannya tapi juga moralnya,” jawab Kak Syafi’ lugas.

“Allahu akbar…Allahu akbar…”

Beberapa saat kemudian terdengan adzan isya, kami segera mengambil wudhu dan shalat. Dalam do’a aku lantunkan permohonan untuk sebuah penjagaan moral, yang telah diakarkan utusan-utusan-Nya. Sebab bukan bom atom ataupun pedang, tapi do’a yang menjadi senjata umat islam.

Kami pulang. Di perjalanan mataku sudah tak kuat lagi menahan kantuk. Kepalaku kusandarkan di pundak Kak Syafi’. Kurasakan tanganku ditarik olehnya dan didekapkan dengan perutnya agar aku tidak terjatuh. Dalam remang-remang sadarku, kudengar dia berkata,”tidurlah dan mimpilah!. Setelah itu tunaikan kewajibanmu untuk berdakwah di jalan-Nya. Mengajak saudaramu untuk masuk jannah-Nya bersama-sama. Tidurlah!

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon