Jumat, 31 Mei 2019

Kumpulan Puisi Tentang Mahasiswa

Mahasiswa sebagai jembatan diantara pemerintah dan masyarakat, sudah seharusnya mempunyai rasa peduli dengan keadaan yang sedang terjadi. Menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar IPK belaka, melainkan tentang bagaimana dia mampu mentransformasikan ilmu serta tindakannya dalam menghadapai isu sosial yang ada.

Berikut puisi yang ditulis oleh seorang mahasiswa dari Bojonegoro tentang seorang mahasiswa.



Mahasiswa dan dinding raksaksa

Tebal tembok itu tak mampu dirobohkan

Digeluti setiap mahasiswa sebagai penampung pelajaran

Dosen mengumandangan berbagai dialetika persoalan

Mahasiswa terdiam harap mampu diimplementasikan



Masuk pagi masuk kelas diruangan

Pulang sampai rumah makan siang

Tidak peduli keadaan sekitar

Ogah menyulitkan diri dengan aksi sosial



Dinding raksaksa

Tempat belajar bukan sekedar bahan ajar

Dinding raksaksa

Tempat kampus dengan problematika



Mahasiswa kritis dianggap anarkis

Mahasiswa apatis apa bedanya dengan siswa SMA

Wisuda hanya embel-embel memperoleh titel semata

Lantas kita siapa ?





Kritis

Ucapan kian menyahut dalam bibir seorang mahasiswa

Ujaran demi ujaran semata bukan kebencian

Rasa keingintahuan ialah awal yang difikirkan

Harap aspirasi didengar juga diperhatikan



Ucapan itu ialah kritis

Mengandung makna akan keadilan

Dimana otak kian memuncak untuk mengutarakan

Yang pada awalnya memilih bungkam



Kritis dalam nada yang rendah

Cukup didengar tidak lebih dihiraukan

Kritis yang pedas

Dianggap memusihi juga membenci



Gemerincing hati menjadi rancu

Dialetika sosial kian memepersulit

Ucapan demi ucapan ingin termanifestasi

Meski kadang tidak terfasilitasi





Mahasiwa dengan otak cerdas mengandung banyak tanya

Keadilan untuk memperoleh segala hak dan kehidupan

Dibumi pertiwi yang dianggap penuh noktah tanya

Kami ingin bersuara.





Suaraku

Aku mahasiswa biasa

Dengan masa lalu apatis dan tidak peduli sosial

Dengan nama hanya deretan penulis prosa
Tulisan penyeimbang banyak tanya



Aku mulai merasakan kerancuan

Problem didunia sosial

Mulut lebih banyak bungkam

Karena pendapat terkadang tak mampu diterbitkan



Suaraku membatin

Suaraku tertulis

Biarlah orang menganggapku bodoh

Degan ambisi ilmu kian ceroboh



Waktu menuntunku

Menemui jalan menuju yang ku mau

Ialah organisasi yang ku anggap mampu menjadi suaraku

Saat bergeming riuh tanya bergelora mengutara kalbu





Aku menangis

Tetesan air mata menepi merasakan batin kian teriris

Pesona tanya dirundung gundah gulana

Langkahku terpatri mulai merasakan tapi

Didunia yang belum terbiasa ditapaki



beginikah dunia yang sesungguhnya

ketika fikiran terbuka akan segala persoalan

ketika otak mulai berfikir akan ketidakadilan

haruskah otakku merasakan kepedihan



mata mengundang banyak air mata

mata menorehkan luka

mulut kelu tak mampu bicara

sekedar diam pun hati merasakan kegoncangan





Aku Mahasiswa

Aku mahasiswa yang biasa mengisi hari dihadapan dosen

Mengerjakan tugas juga presentasi didepan kelas

Mengungkap segala gundah

Juga diskusi kecil bersama teman sekelas



Bukan hanya kongkow ria lalu berharap lulus dengan istimewa

Bukan pemilik sifat hedonis menghamburkan harta orang tua

Aku mahasiswa dengan otak harus cerdas juga beretika

Dengan mulut bicara lantang tanpa menyudutkan



Tangan mahasiswa ialah tangan penuh karya

Otak mahasiswa ialah otak sang cendekiawan muda

Mulut mahasiswa ialah mulut sang pejuang bangsa

Langkah mahasiswa ialah langkah sang juara



Bojonegoro, 25 Desember 2018



Biodata Penulis
Dia bernama Sinta Efi Ulandari seorang mahasiswa fakultas ekonomi semester 5 di Universitas Bojonegoro. Saat ini tinggal Desa Sedeng, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro.

Tujuan saya menulis puisi dengan tema mahasiswa ialah saya ingin agar kita sebagai mahasiswa bukan hanya sekedar berdiam diri hanya untuk memperoleh IPK tinggi, kita mahasiswa jika kita tidak mampu memanfaatkan waktu semasa muda maka kita akan tertinggal ketika tua berada di depan mata, jangan sampai penyesalan kelak menjadi hal yang membuat kita merasa kalah karena ulah kita sendiri.

Artikel Terkait

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon