Jumat, 31 Mei 2019

Pendidikan Pemuda Untuk Pembangunan Desa

Pendidikan pemuda ini dapat diartikan bahwa SDM (Sumber daya Manusia) pemuda dapat menjadi unsur perubahan dalam gerakan desa. Tidak hanya perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, tetapi juga dari tidak bermoral menjadi bermoral. Pendidikan sebagai poros amunisi (peledak) bagi pemuda desa itu sendiri. Lantas apakah pendidikan pemuda itu selalu mempunyai amunisi yang bagus ?

Pertanyaaan itu yang membuat para awak desa kurang sadar betul terhadap arti pentingnya pendidikan pemuda. Pendidikan bisa saja meleset ke amunisi yang buruk. Hal itulah yang menyebabkan ribuan awak desa menganggap bahwa pendidikan pemuda tidak terlalu penting.

Banyaknya para koruptor yang berpendidikan tinggi itu yang membuat ketidakyakinan orang dengan sebuah pendidikan. Kajian bermoral sudah tidak begitu penting menurut para awak koruptor. Kesadaran Berakhlak sudah menjadi bobot terkecil dalam dunia politik. Padahal, kalimat “balek deso mbangun deso” masih sangat elegan di dunia pendidikan. Kalimat yang memiliki arti kembali ke desa dengan membangun desa dimaksukdkan agar setiap pemuda yang menempuh pendidikan kembali ke desa lantas membangun desa.

Ketergantungan masyarakat kepada pemuda tentang pembangunan dan pemerintahan yang sistematis sangatlah besar. Amunisi buruk kian banyak menghabiskan alur pemerintahan yang morat-marit. Pendidikan adalah pilihan yang sangat objektif dalam penentuan kader desa seperti ini. Bukan hanya pemerintah kota, tetapi pemerintah desa. Harapan masyarakat desa mewujudkan desa yang mandiri sudah semakin menggebu. Asupan Pendidikan bermoral sangat menjadi penentu pokok dalam pemerintahan desa.

Pemuda yang menjadi agen pendidikan, harus bisa terarah dengan kekuatan amunisi yang positif. Perbekalan untuk membangun desa dari tidak sehat menjadi sehat, dari tidak cerdas menjadi cerdas adalah hal utama. Pendidikan ini tidak hanya berporos pada pendidikan formal, tetapi juga harus disertai pendidikan informal. Pendidikan agama tentunya, pendidikan informal yang berasaskan akhlakul karimah, yang tujuannya membentuk moral para pemuda sehingga dalam kepemimpinannya bisa selalu berasas, sehingga kalimat “balek deso mbangun deso” masih tampak kuat kepamorannya.

Lihat saja dengan pemerintahan desa saat ini, minimnya pendidikan yang ditempuh menjadikan semakin tidak karuannya pengembangan pedesaan. Pemerintah hanya bermodal uang tanpa tahu alur politik sesungguhnya. Atasan yang memegang kekuasaan dengan pendidikan rendah, semakin meresahkan kalangan muda di desa. Bagaimana tidak ? Bawahan yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, memiliki banyak pengalaman di luar desa, sangat sulit mengaspirasikan pendapat. Pendapat yang sering dilontarkan seringkali diterima secara kolot bagi perangkat desa. Sudah sangat jelas bahwa pendidikan pemuda memang pantas sebagai reformasi pembangunan desa.

Pendidikan pemuda bisa saja menjadi tolak ukur dalam perkembangan desa. Gerakan karang taruna misalnya, tentu pendidikan sangat berperan. Pemuda bisa belajar dari mereka berorganisasi di universitas maupun tingkat Sekolah Menengah Atas sehingga, tidak ada kesulitan ketika mereka dihadapkan dengan dunia pengajuan proposal maupun acara rutinan. Kebiasaan ini bisa tampak terlihat tingginya pendidikan anggota karang taruna tersebut.

Melihat kondisi permasalahan yang seringkali terjadi di pedesaan, hal ini merupakan perwujudan dari anggapan masyarakat tentang pendidikan yang tidak terlalu penting dan beramunisi buruk. Kemiringan atas kata pendidikan yang beramunisi buruk bagi masyarakat desa bisa terkikis selagi pendidikan berakhlakul karimah masih tetap berlaku. Kejayaan desa, dengan pergerakan yang agak lambat namun pasti, tetap akan terwujud. Pergerakan dengan perwujudan organisasi pemuda yang berpendidikan serta bergerak ke Reformasi pembangunan desa akan semakin terlihat nyata.

Pemuda Mandiri adalah impian setiap pemuda ketika dia telah kembali ke desa. Perumpamaan bahwa reformasi bangsa tidak hanya terkonsep pada kalangan tertentu, tetapi reformasi desaku juga akan sedemikian rupa. Mewujudkan desa yang banyak perubahan. Mewujudkan desa yang punya pendidikan. Reformasi yang tidak hanya menjadi wacana, tetapi reformasi yang sudah menjadi hak bangsa.

Pendidikan pemuda dengan penggeraknya adalah hati nurani telah beralih ke dalam hati para pendidik, dan peserta didik. Apakah juga demikian bagi para koruptor? rasanya sudah semakin enggan untuk berbicara koruptor. Semangka masih bisa berbuah meski banyak hama, begitulah ibaratnya. Negara dan desa masih bisa hidup dengan hati nurani pemuda. Selektivitas pendidikan pemuda masih bisa hidup dari kalian. Membangun desa yang mandiri.

Membangun desa disini mempunyai arti mewujudkan desa yang mandiri, bersih dan cerdas. Bagaimana dengan mandiri, bersih dan cerdas yang dimaksudkan? Mandiri bukan hanya mandiri dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tapi mandiri dalam segala hal aspek kegiatan pembangunan desa itu. Dan Bersih bukan hanya bersih lingkungan tapi bersih hati, maka pendidikan agama pun diperlukan, karena pendidikan agama ini membentuk proses pembentukan moral. Hal inilah yang sering bahkan sudah dilupakan oleh para koruptor sehingga pendidikan berarah ke hal buruk.

Desa yang cerdas, berwibawa untuk merubah desanya menjadi ke arah lebih baik. Desa yang berpotensi untuk mengubah masyarakatnya menjadi lebih paham politik, dan lebih cerdas dalam memilah hal apapun dan mengarahkan pendidikan ke hal yang positif.

Pendidikan pemuda adalah hati nuraninya.Tepatkan pendidikan sebagai tonggak bangsa dan pembangun desa. Kembalikan Pendidikan untuk jayakan pemuda desa.



oleh: M. Kasmari

Uncla-unclu Bojonegoro

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon