Jumat, 31 Mei 2019

Sepeda Onthel

Oleh: Ulil Fikri
Pegiat Literasi Menulis Desa Tanjung Harjo, Kecamatan Kapas

“mana toh? Sudah jarang kan?”
“apa karena jalan penuh dan ramai?”
“atau kredit motor makin terangkau? Ah, embuh yo. “

Senin pagi, tampak di balik kabut tipis embun pagi seorang anak yang memakai seragam merah putih mengayuh sepeda. Tak tampak peluh di dahi kecilnya,mungkin udara pagi menyapu peluhnya. Berjalan dengan kecepatan rendah dia terlihat santai pergi ke sekolah.

Sesekali,kulihat dia tengok kanan –kiri melihat sisa embun yang menempel di rumput pinggir jalan masih menjadi bulir air. Dengan senyum lebar, dan pantatnya diangkat untuk menambah kekuatan kayuhan. Melihatnya saja, tiba-tiba saya kok merasa senyam-senyum meskipun tidak memakai sepeda,namun saya seperti ikut merasakan energi kesehatannya.

Kusabarkan waktuku, kupelankan speedometerku untuk mengamatinya dari belakang. Tiba-tiba sejenak terbersit iri hatiku melihatnya.

Teringat olehku, saat Sekolah Dasar hingga SMK, sepeda menjadi alat transportasi utamaku. Sejauh apapun lokasi tujuan, bila tidak ada uang ya sepeda dikayuh. Sepeda bagi masa kecilku, cukup banyak kenangan. Saya punya teman sebaya, beberapa kali Haul Mbah Abdul Jabbar Nglirip kita ke sana, berboncengan. Kita berangkat sehari sebelum hari –H, kita berangkat awal karena kita berniat makan gulai kambing dengan nasi jagung.

Ada beberapa rumah warga yang menyiapkan menu tersebut, pada malam hari sebelum Haul. Begitu kita habiskan satu piring,kita akan bersiap-siap untuk berpindah ke rumah lainnya,begit seterusnya sampai semua rumah kita kunjungi. Sampai-sampai kapasitas perut penuh, full.

Tak terasa sudah sebelas tahun berlalu, terakhir kali aku aktif mengayuh sepeda. Memang, sepeda milikku sudah tidak ada. Dan jarak yang kutempuh sehari-hari juga lumayan jauh, luar desa dan sering juga luar kecamatan. Jarak yang cukup menyita waktu bila diempuh dengan sepeda.

Dan tampaknya, kini aku mulai merasa asing dengan anak kecil yang berangkat sekolah bersepeda. Tidak seperti saat kecil dulu, jalanan penuh dengan pelajar bersepeda sepulang sekolah. Pelajar SD, MI,Mts dan Aliyah mayoritas mengayuh sepeda. Rasanya Kangen sekali dengan suasana tersebut. Aku semakin kangen dengan peluh yang membanjiri dahi, kebut-kebutan untuk menjadi juara yang tak berpiala.

Kini jalan depan rumah semakin bagus, jarang jalanan berlubang dan berdebu. Dan semakin jarang orang-orang beraktifitas memakai sepeda. Ke sawah, ke pasar, pergi mencari rumput, mengirim makanan ke sawah, ke sekolah banyak memakai motor. Pelajar kini banyak yang bermotor. Dan akibatnya, semakin berkurang lalu lalang anak kecil di jalan. Bahaya.

Bersepeda keliling desa, pergi ke sungai, pergi ke rumah teman bermain, ingin kulalui semua itu dengan sepeda, mungkin dengan sepeda second yang nantinya kubeli. Sudah kangen dengan kesegaran peluh di dahi, basahnya punggung, dan ngos-ngosan. Jika, kebetulan teman-teman kecilku masih di rumah, aku berencana mengajaknya keliling jalan poros desa. Kita ramaikan kembali jalanan depan rumah dengan sepeda.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon