Jumat, 09 Agustus 2019

Carilah Pasangan yang Bisa Merubahmu Jadi Lebih Sholehah, Bukan Cuma Merubah Status Single


Sahabat muslimah, siapa yang tidak menginginkan rumah tangga yang harmonis yang dipenuhi kebahagiaan?

 Maka Carilah lelaki yang bisa mengubah hidupmu menjadi lebih shalihah, bukan pria yang hanya mampu mengubah statusmu dari single jadi menikah. Tentu semua wanita mendambakannya hal terseb Maka, rencanakan sejak awal. Tugas kita sebagai wanita ialah menjaga diri, memantaskan diri dan membekali diri dengan ilmu Allah.

 Pria memang dapat memilih wanita yang ingin ia nikahi, tapi wanita pun juga berhak menolak lelaki yang tidak ia inginkan. Mau menerima lelaki seperti apa ialah kunci awal kehidupanmu di masa depan. Sahabat muslimah, carilah lelaki yang memang pantas menjadi imam dalam keluarga kecilmu kelak. Lelaki yang bisa menggandengmu bersama menuju surga Allah SWT.

 Apakah masih tetap menginginkan “dia” yang selalu mengajakmu hura-hura? Dugem? Pacaran tiap hari? Apa yang bisa diharapkan dari lelaki seperti dia? Dia saja yang berani mengkhianati Allah, bukan tidak mungkin kamu juga akan dikhianatinya juga dikemudian hari. Maka, mari Bangun semangat menjadi wanita cerdas untuk memilih “dia” yang sekiranya mampu menggandengmu menuju surga Allah.

 Semoga kita mendapatkan jodoh yang sholeh/sholiha yang selalu di ridhoi Allah SWT, Bagikan tulisan ini jika kamu rasa bermanfaat. Karena kebahagiaan sahabat lain juga merupakan kebahagiaan kita semua umat muslim.

Jumat, 31 Mei 2019

Tukang Sol

Foto: ilustrasi

Hari menjelang pagi. Tatkala matahari terbit dari ufuk timur, matahari menampakkan warna cerahnya yang memberikan semangat hidup untuk menimba ilmu.

“ul, sini deh,” ucap Ararah kepada Davi yang sedang di teras.

“ ya Fah, ada apa?” tanya Dewikepada Arafah

“ Ayo cerita yuk Vi!!!”

“ cerita?” tanya Devi

“ iya Vi”

“ tapi cerita apa Fah, aku nggak punya cerita”

“ ya udah aku aja yang cerita, kamu yang dengerin” ucap Arafah kepada Devi.

“ iya Fa” jawab Devi

“ dulu itu ayahku seorang tukang sol sepatu dan dari pekerjaannya itu lah ayahku menafkahi istri dan kedua anaknya, yaa…walaupun hasinya nggak seberapa sih”.

Pagi hari ayahku sudah berangkat untuk mengais rejeki, ia selalu memakai topi berwarna coklat abrak untuk bekerja. Terkadang ada pelnggan yang minta ini minta itu, tatapi ayahku selalu meladeninya dengan sabar dan tabah walaupun upah sol sepatu Cuma Rp 5000,- saja. Hingga pada suatu hariayah mempunyaikeinginan yang menurut ibu sangat tidak masuk akal.

“ bu…ayah ingin berkurban tahun depan” ucap ayah kepada ibu sewaktu menyapu ruang tamu.

“ yah berkurban itu bagi orang yang mampu, sedangkan uang yang ayah kasih buat ibuk Cuma cukup untuk biaya makan kita sehari hari”

“ lo kenapa inu malah mencegah ayah untuk berbuat baik, bu…kita berkorban supaya nanti di akhrat nanti hewan yang kita kurbankan akan menjadi kendaraan di sana besok bu, iini ibu malah nggak doain ayah untuk bisa berkurban, malah marahin ayah” protes ayah kepada ibu.

“ya, ya ibu doain supaya besok tahun depan ayah bisa berkorban,” ucap ibu.

“amin, lho itu dong, kan enak ayah dengarnya,”

“kalau ayah ingin berkorban, ayah harus giat bekerja, supaya nanti hasilnya bisa ditabung untuk bisa ditabung untuk membeli hewan kurban ayah,”

“iya bu, ayah janji, ayah akan giat bekerja,” jawab ayah dengan penuh semangat.

*****
Dengan doa dan usaha,berikhtiar sedikit demi sedikit akhirnya, tabungan ayahku penuh. Akhirnya ayahku dapat membeli kambing setelah empat tahun menabung.

“Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar, la ilaha iallahu Allah akbar, Allah akbar walillahilham,”

Waktu hari raya idul adha sudah tiba, kambing yang akan dikurbankan diberi nama oleh ayah, keluarga Bapak Chasbullah. Dan aku tidak mengira, seorang tukang sol sepatu bisa berkurban kambing untuk kecilnya itu, subhanallah.

“sungguh besar sekali rahasia Tuhan Yang Maha Esa,”

Cerita yang ibu ceritakan padaku akan ku kenang selama aku masih hidup.

“oh, jadi begitu ceritaya, eh Kah, aku mau Nana tapi kamu harus janji, kamu jangan marah ya Kah?”

“iya, demang mau Nana apa sih kok Vi, Go pakai janji jangan arah juga?”

“aku mau tanya, kalau ayah kamu seorang tukang sol, lha, terus yang biayain kau sekolah siapa? Kan ayah kamu penghasilannya kurang” tanya Davi dengan sedikit sombong.

“aku itu sekolah dibiayain sama ayah akulah, dan sekarang Alhamdulillah ayah kau ludah dapat kerjaan di luar kota. Setiap bulan ayahku kirim uang untuk sekolahku dan uang makan,”

Kring…kring…kriing… tak terasa bel masuk sekah berbunyi 3 kali.
Arafah dan Daul pun masuk kelas.

*****
Kring….kriing… bel pulang sekolah berbunyi, Satya Ararah dan Daul pulang sekolah.
Sesampainya di rumah, Ararah terkejut saat melihat ayahnya pulang dan sedang duduk di sofa.

“Assalamu alaikum,” ucap Arafah.

“Wa alaikum salam, Arafah,” jawab ayah.

“ayah, …ayah kapan pulangnya?’

“baru kok sayang ayah pulangnya,” jawab ayah sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“ini apa ayah?” tanya Arafah Penuh Ing tahu.

“ini adalah oleh-oleh hanya untuk Arafah seorang,”

“ye..oleh – oleh terima kasih ayah, Arafah sayang sama ayah,” ucapan terima kasih Arafah dengan sedikit manja.

“sama-sama sayang,” jawab ayah.

Dengan semangat, Arafah membuka oleh-oleh dari ayah yang berisikan kalung yang bernama ‘ARAFAH”.

“ayah, kalau Arafah dapat oleh-oleh, pasti oleh-oleh buat ibu ada kan ayah?” tanya ibu dengan sedikit cemburu.

“pasti ada dong bu” jawab ayah.

“apa ayah?” tanya ibu.

“ini bu” jawab ayah.

“wah,…terima kasih ayah”

“sama-sama ibu” jawab ayah.

Ibupun membuka oleh-oleh dari ayah yang berisikan cincin dan kalung.

*****
Matahari telah nampak dari ufuk timur. Waktunya Arafah menimba ilmu di SDN 1 Semarang. Arafah berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda gunung yang bermerk PACIFIC.

“Fah, nanti kita cerita lagi yuk?” ucap Daul kepada Arafah.

“tak apa, biar nanti aku yang akan cerita” ucap Davi.

“Bener ya? Cerita soal apa?”

“ada deh, kepo ya?”

“Hub, ya ludah ayo kita masuk ke kelas” ajak Arafah untuk masuk ke kelas.

“Ayo” jawab Davi.

Braaaaaak…..
Saat mereka akan pergi ke kelas, tiba-tiba terdengar suara tabrakan antara tukang sol dan mobil. Mereka pun melihat kejadian itu.

“Arafah, apakah itu ayahmu?”

“bukan,ayahku sedang ada di rumah. Kemarin ayahku baru pulang,” jawab Arafah.

“oo…ya ludah, mari kita masuk,”

“ayo,” jawab Arafah.

Lalu mereka pun pergi ke kelas dengan penuh canda dan tawa.


Oleh: Putri Hasna Lia

Cerita Dibalik Hijab


Hari demi hari telah berlalu, tahun telah berganti. Gadis yang berhijab puutih itu sudah beranjak remaja. Dan kini tinggal kuliahnya saja. Tapi, sayang gadis yang cantik dan berkulit putih itu hanya tinggal sendiri. Maklum,orang tuanya sudah bercerai disaat dia berumur 15 tahun. Hasna sekaligus guru mengaji di musholla. Ia mengajar mengaji tidak sendirian. Melainkan, ditemani oleh sahabatnya, Anton.

Sore itu Hasna datang ke rumah Anton untuk mengajak Anton mengajar anak-anak mengaji. Saat itu Hasna datang dengan penampilan yang berbeda tidak seperti biasanya sehingga Anton terpukau dengan penampilan yang berbeda.

Tok, tok, tok… suara ketokan pintu.

“assalamu alaiku…Ton, Anton… ngajar yuk ton,” kata Hasna sambil mengetuk pintu.

“wa alaikum salam, ya,.. ya,.. Na bentar,” jawab Anton sabil memakai kopyah berwarna hitam.

Sesampai di depan pintu, Anton membuka pintu dan ia terkejut melihat penampilan Hasna yang berbeda.

“Hey.. Ton lama banget sih, kamu bukain pintunya????” tanya Hasna kepada Anton.

Namun, Anton terdiam tidak menjawab pertanyaan Hasna.

“Subhanallah,sungguh indah dan cantik ciptaan Tuhan, tidak seperti biasanya penampilan Hasna seperti ini,” ucap Anton dalam hati.

“woy, Ton, kenapa kamu ngelamun? Pangling ya, lihat penampilanku yang tidak seperti basanya” tanya Hasna dengan rasa PD.

“Ye,..Sok kamu, ke-PD an banget sih kamu Na,” jawab Anton ketus.

“He-he-he, tapi benerkan Ton? Tanya Hasna lagi.

“Ya,,,emang sih, kau kalo gitu cantik Na” jawab Anton dalam hati.

“udah, udah nggak usah dibahas lagi, ayo kita ke musholla udah ditungguin sama anak-anak. Ayo Na,” jawab Anton dengan alasan untuk menjauhi pertanyaan Hasna.

“alasan doang kamu Ton,” kata Hasna di dalam hati.

“heh,kok ngelamun? Ayo Na, ayo cepat nanti kita telat,”

“hah.. oh, ya ya, ayo,” jawab Hasna.

Musholla dari rumah Anton tidak jauh. Cuma sekitar 2 meter dari rumah Anton.

“assalamu alaikum..anak-anak,” ucap Hasna pada murid-muridnya.

“wa alaikum salam Kak Hasna, kak Anton,” jawab para santri serentak.

“kalian sudah lama, nungguin kakak Hasna sama kak Anton ??”

“enggak kok kak, kita bau sampai di sini.”

“ooo…gitu, ya udah ayo kita mulai ngajinya kita berdoa dulu ya anak-anak. Kakak Anton tolong dipimpin doanya,” kata Hasna menyuruh Anton untuk memimpin doa, namun Anton tersenyum.

******
Mengajar mengaji sudah selesai, kini tinggal Anton dan Hasna yang di musholla, mereka sengaja pulang belakang karena mereka sedang bersih-bersih musholla.

“udah selesai, ayo kita pulang ,” ucap Anton kepada Hasna .

“udah, ayo pulang Ton,” jawab Hasna kepada Anton.

“eh gantian dong Na, tadikan kamu yang jemput aku, nah sekarang aku yang nganterin kamu pulang, bolehkah Na?”

“iya, boleh kok,” jawab Hasna.

*****

Sesampai di depan rumah Hasna, Hasna mempersilahkan Anton untuk mampir dulu ke rumah. Tetapi Anton menolak.

“Eh Ton, nggak masuk dulu, minum atau istirahat gitu?” tanya Hasna kepada Anton.

“oh, nggak usah terima kasih banyak Na, aku takut kalau nanti kita di dalam hanya berdua saja, nanti malah jadi fitnah yang enggak-enggak lagi,” jawab Anton.

“oh, gitu ya, kalau gitu aku masuk ke dala dulu ya,”

“sekalian aku mau pulang Na, Assalamu alaikum”

“Wa alaikum salamwr. Wb.,” jawab Hasna dengan spontan lengkap.

Dengan begitu, Anton pun pulang ke rumah. Anton mendapatkan sms dari tetangga yang tertuliskan “ibumu sakit, ia minta kamu pulang sekarang juga.” Anton pun bergegas memasukkan baju-baju ke dalam tas. Dalam keadaan gugup, Anton tidak bisa memberitahu kepada Husna kalau orangtuanya itu sakit, dan ia akan pulang untuk beberapa hari.

*****
Dua hari Anton meninggalkan Husna. Husna bingung mencari Anton.

“duh Anton kemana sih, dua hari nggak bantuin aku ngajar anak-anak ngaji. Aku sampek kuwalahan ngajar sendirian. Tanya tetangga nggak ada yang tahu, ditelpon nggak diangkat. Mau tu orang tu apa sih? Bingung aku,” ucap Husna sendiri sambil menendang-nendang kaleng.

“em, tanya orang lagi ah, siapa tahu ada yang tau,” gumam Hasna.

“Mas-mas numpang tanya, Anton itu kemana ya? Kok dua hari rumahnya dikunci?” tanya Hasna kepada tetangga Anton.

“maaf mbak,saya kurang tahu, saya cuma tahu kemarin mas Anton bawa tas dan naik ojek. Kalau mbak ini mau tahu mas Anton. Coba cek deh di kamarnya, mesti ada surat di sana.” Jawab tetangga Anton.

“oh ya, bener juga, ya udah ya terima kasih ya mas,”

“sama-sama mbak,” jawab tetangga Anton.

Hasna pun lari kerumah Anton dan mencari jendela kamar Anton untuk ia masuk kamar.

“alhamdulilah ini jendelanya, masuk ah” ucap hasna sendirian

Hasna pun masuk kamar melalui jendela kamar Anton dan ia pun mencari-cari surat disela-sela kamar, ia pun tak lupa membuka semua almari Anton. Hasna tidak menemukan surat tetapi ia menemukan buku harian berwarna biru.

“apa ini? O…buku hariannya si Anton” ucap Husna

Kemudian Husna membuka buku harian itu dan membacanya, sedangkan buku harian itu tertuliskan.

Dibalik hijab mu,aku menyukaimu

Seandainya kamu tau apa isi hatiku padamu

Engkau pasti menolakku mentah mentah

Aku dengan sengaja tidak memberitahumu

Bahwa aku mencintaimu sejak dulu

Tetapi kamu tidak sadar apa yang aku rasakan

Sa’at kumelihatmu dengan pria lain

Hati ini merasa iri sa’at kau dekat dengan pria lain

Sa’atku di depanmu aku pura pura sok lugu dan pendiam

Setiap pulang mengajar mengaji

Aku menulis dirimu di dalambuku biru ini

Aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku selama ini

Tetapi yang pasti

Aku akan tetap mencintaimu

Biarlah waktu yang menjawab

Hasna pun menangis sa’at membacabuku harian itu. Hasna pun bergegas dan meninggalkan kamar Anton yang berantakan itu.

***

Begitu pula dengan anton yang sudah pulang dari kampung halaman sehingga ia tidak menghubungi Hasna dimana ia berada sekarang.

“astaghfirullah, aku lupa, aku taruh buku harianku itu didalam almari. Aku takut kalau husna masuk ke kamarku, terus dia pasti tau kalau akupunya perasaan padanya. Eh, smoga saja Hasna tidak masuk ke kamarku”ucap Anton sekaligus mengucapkan istighfar. Saat Anton menyadari bahwa buku harian itu, tiba tiba ibu dan bapaknya datang dari bilik pintu.

“Ton, ibu dan bapak ingin menjodohkanmu denagn pilihan ibu dan bapak. Semoga kamu cocok dengan wanita pilihan kita Too”kata ibunya bermaksud ingin menjodohkkannya.

“ibu…bapak…, Anton itu sudah besar, Anton bisa memilih calin istri sendiri lai pulaAnton punya selera wanita yang tinggi, siapa tahuu kalau Anton dijodohin sama pilihan bapak dan ibu kalau nggak cocok sama Anton, yang ada Anton malah kabur. Lagi pula Anton sudah punya calon istri kok Bu”jawab Antondengan sedikit mengelak dari perjdohan itu.

“baiklah kalau begitu, bapak punya syarat, apabila dalamwaktu 2 bulan ini kabu belummenikah dengan pilihanmu, terpaksa bapak dan ibu akan terus melanjutkan perjodohan itu” ucap bapak Anton.

“baiklah pak, Anton setuju denagn syarat bapak” jawab anton dengan sedikit pasrah.

***
Satu bulan sudah terlewati kini Anton pun belum menikah denagan wanita yang diidamkan itu

“ waktuku tanggal 29 hari lagi aku harusmenghubungi Hasna, sekarang juga” ucap Anton sambil mondar mandir. Sa’at Anton hendak menghubungi Hasna tiba tiba Hasna muncul di hadapan Anton.

“ Antonkamu tu keterlaluan benget ya, pulang kampung nggak ngasih tau orang, di telfon nggak diangkat, di SMS juga nggak dibales, mau kamu tuu apa sih?” protes Husna kepada Anton

“ woy…woy… ngomng nggak ada titik komanya, dengerin dulu penjelasan aku na. Aku pulang kampung tu dapat kabar kalau ibu aku sakit keras, makanya ku nggak telfon kamu, nggak SMS kamu” jelas Anton kepada Husna.

“ Ton aku tu kemari masuk kamar kamu lewat jendela dan aku disana nemuin buku warnanya biru” ucap Husna.

“ tu kan bener apa aku bilang , Hasna masuk kamarku, pasti dia tau perasaanku yang sebenarnya” gumam Anton didalam hati.

“ wooyy…Ton kok ngelamun sih kamu”

“ hah…enggak kok, aku nggak ngelamun. Eh Hasna kamu baca nggak buku harian itu?” tanya Anton dengan rasa malu.

“ iya aku baca buku harian kamu, memangnya kenapa Ton?” tanya Hasna.

“ aduh… duduk dulu Hasna biar aku jelaskan semuanya” ucap Anton ketikan mengajak Hasna duduk. Mereka pun duduk dibawah pohin mangga.” Hasna sekarang kamu sudah tau perasaanku kepada kamu Hasna” jelas Anton.

“ terus” ucap hasna bingung.

“ aku tuu sebenernya mau dijodohin sama orang tuaku, tapi aku tolak perjodohanku itu, aku bilang kalau aku sudah punya calon istri pilihanku sendiri, dan orang tuaku memberiku waktu 2 bulan untuk bisa membawa calon istriku pulang, tapi kalau aku gagal membawanya pulang perjodohan itu akan dilanjutkan kembali dan orang tuaku menyetujuinya” jelas Anton kepada Hasna.

“ lalu mana calon istrimu” Hasna bertanya kepada Anton.

“sekarang calon istriku ada di depan mataku ini”kata Anton semakin membingungkan

“ hah aku? Maksud kamu apa Anton?” Hasna semakin kebingungan.

“ maksud aku, Hasna kamu mau nggak jadi istri aku?” Anton memberanikan diri untuk melamar Hasna.

“ eeemm mauu nggak ya?”

“mau ya Na… please mau yaa?” kata Anton memaksa.

“ ih kamu kok sewot sih Ton”

“tapi mau kan??”

“iya aku mau kok”

“ alhamdulilah hirobbill alamin, ya udah ayo kita kerumahku akan aku kenalin kamu sama orang tuaku” ucap Anton dengan penuh semangat

“ ayo” jawab Hasna

Mereka pun pergi kerumah Anton Untuk menemui orang tua Anton.

***

Sesampainya di rumah, Anton memperkenalkan Hasna kepada orang tuanya.

“assalamu alaikum” salam Anton.

“Wa alaikum salam, lho Anton ini siapa?” tanya ibu Anton.

“ini lho bu, yang Anton maksud, ini calon istri Anton,” jawab Anton.

“oo… ini tho,cantik banget,”

“bu,” ucap Hasna kepada ibunya Anton, dan tak lupa Hasna mencium tangan Ibu Anton.

"Nama saya Hasna,” jawab Hasna.

“o.. Hasna, nama yang bagus itu, eh ya, udah kita maksud kalau gitu kita masuk ya” ucap ibunya Anton mempersilakan Hasna masuk. Lalu, merekapun masuk ke rumah.

Saat mereka masuk rumah, bapak Anton kaget melihat Hasna.

“lho, Ton, ini siapa?” tanya bapak.

“ini calon istri Anton, sekaligus calon menantu kita pak,” jawab ibu Anton.

“o…namanya siapa nak cantik?” tanya bapak.

“bapak ini tanya kayak wartawan, namanya ini Hasna” jawab ibu.

“o..Hasna,” dan tak lupaHasna pun mencium tangan bapak Anton.

“Baiklah, sesuai kata bapak, perjodohan bapak batalkan,” timpal bapak.

“oh, ya, dan kapan kalian akan menikah?” tanya bapak.

Saat bapak mengatakan itu, Hasna dan Anton pun saling berpadang – memandang.

“Em… kita terserah bapak aja,” jawab Anton.

“baiklah minggu depan kalian harus menikah,”

“hah, secepat itu,” tanya Husna.

*****
Hari bahagia sudah terlaksanakan, mereka pun menikah dan membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sesudah menikah, Anton dan Hasna pun hidup bersama. Hasna pun merasa bahagia hidup dalam keluarga yang sederhana itu.

******

Oleh: Putri Hasna Lia

Siswa Sekolah Baru


Oleh: Alista Alsadella
Siswa SMP Plus Nu 02 Al Khikmah Soko, Tuban – Jawa Timur

Di ruang sekolah pagi ini hening sekali karena baru ada Mely, Rina dan Siska. Mereka hanya diam dan membaca buku di dalam kelas. Tiba-tiba Meka datang dengan heboh sambil berkata

“Hey…. ada anak baru lho, katanya dia akan mulai masuk hari ini kalau gak gitu ya…. hari senin”.

“Kamu dapet informasi itu dari mana, mungkin aja hoax,” kata siska.

Tapi saat dia ingin menjelaskan bahwa anak itu adalah anak kepala sekolah lain, dia melihat bahwa Mely, Rina, dan Siska tidak mendengarkannya tapi justru mereka malah cuek dengan membaca buku.

Saat itu Meka sadar bahwa dia hanya membuang-buang energinya saja. Ia pun langsung duduk di kursinya sambil manyun. Kemudian murid-murid datang-satu persatu.

“Teeeeeett,” suara bel masuk. Semua murid pun segera mempersiapkan diri untuk memulai pelajaran Bahasa Indonesia sambil menunggu guru datang.

“Assalammualaikum wr.wb.,” kata guru bahasa indonesia.

“Waalaikum mussalam wr.wb.,” jawab semua murid. Kemudian pelajaran pun berlangsung hingga waktu istirahat.

“Teeeeett”, Bunyi bel istirahat. Kami semua langsung istirahat. Para siswa ada yang ke taman, kantin ,juga ada yang sholat dhuha di mushola.

Mika mengajak Siska, Mely, Rina, dan Alsa ke kantin. Disana Mika mengulangi kata-katanya lagi, yaitu ada anak baru di sekolahan itu.

“Aku juga tahu kalau ada anak baru disini, Bu Rani yang memberitahu aku,” sahut Alsa.

“Jadi Meka gak bohong soal itu, kirain Meka bohong seperti biasanya,” jawab Siska.

Setelah itu Siska, Mely dan Rina meminta maaf kepada Meka karena, telah tak acuh dengannya tadi pagi.

###

Esok harinya saat Meka datang paling awal dia kaget. Karena ternyata siswa yang ia bicarakan kemarin sudah mulai masuk. Siswa itu mengajak berkenalan dengan Meka tapi dia justru terdiam.

“Hey…..kamu kenapa ,kamu gak kenapa-napa kan (sambil melambai-lambaikan tangannya di depan Meka),” kata murid baru itu.

Meka kaget, ia langsung menjawabnya

“Eng…. enggak kok aku gak kenapa-napa, oh ya nama aku Meka kalau nama kamu siapa.”

“Aku Rendi,” sahut si murid baru.

Setlah berbincang-bincang mereka pun mulai akrab.

“Ehmzzz,” kata Siska,Rina,Mely yang baru saja datang.

Mika menjelaskan yang sebenarnya kemudian memperkenalkan mereka pada Rendi.

“Hmzzz, ada yang udah kenalan nih,” kata Alsa dengan raut wajah ngeledek.

“Alsaa…,” sahut Rendi.

“Iya kak,” jawab Alsa.

“Apa.” Kata Rina, Mely, Mika dan Siska yang kaget.

Alsa menjelaskan bahwa Rendi adalah kakaknya dan dia meminta maaf karena tidak mengatakan yang sejujurnya kepada mereka.

“Sebagai permintaan maaf aku akan mentraktir kalian dikantin sekarang, sampai kenyang,” kata Alsa.

Merekapun makan sampai kenyang dan dibayar oleh Alsa.

###

Sepulang sekolah ada Riko (anak terkeren di sekolah) dia menantang Rendi main basket. Perjanjiannya yang menang jadi yang terbaik di sekolah. Rendi tanpa pikir panjang langsung menerimanya.

Mereka bertanding satu lawan satu. Mereka saling mendribble bola. Mereka memang jago dalam permainan ini. Namun pada skor akhirnya ternyata Rendi memang lebih hebat. Riko tidak terima ,ia pun membuat rencana untuk membuat Rendi di keluarkan.

###

Keesokan harinya saat Rendi sedang olahraga basket, Riko menaruh uangnya di tas Rendi .

Kemudian dia memfitnah Rendi yang mencuri uangnya. Gurupun menggeledah tasnya Rendi. Tentu saja uang Riko ada di tas Rendi. Akhirnya guru memanggil orang tua Rendi. Orang tua Rendi datang ke sekolahan Rendi dan diberi tahu bahwa Rendi telah mencuri uang Riko.

“Maaf pak kami harus keluarkan anak bapak dari sekolahan kami,” kata kepala sekolah dengan sangat-sangat menyesal.

“Tunggu kakakku tidak bersalah, Riko yang sengaja menaruh uangnya di tas kakakku ,” kata Alsa.

Kemudian ia menunjukkan video tentang kelakuan Riko. Akhirnya semua terungkap dan bukan Rendi yang di keluarkan tapi Riko.

Patah Hati Sebelum Jatuh Cinta


Walau ada yang mengatakan mencintai adalah sebuah takdir, tapi urusan mencintai bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi jomblo yang tengah patah hati sedang trauma untuk jatuh cinta, mengikrarkan diri dengan insyaf dan sadar untuk taubatan nasuha, tidak ingin jatuh cinta dan menolak merindukan pria/wanita. Yakin mblo kuat kayak gitu?

Mencintai adalah suatu ni’mat yang di limpahkan-Nya, meskipun kadang dengan mencintai seseorang tetapi mendapatkan balasan yang menyakiti hati. Namun sebenarnya urusan sakit atau tidak tergantung bagaimana menyikapinya. Maka dari itu cobalah buka kembali hatimu sedikit saja nggak usah banyak-banyak kemudian kembali mencintai lagi. kalo nggak bisa? Tenang aja ada jalannya. Kata orang Jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Meski disisi lain menurut Kahlil Gibran Cinta adalah anak dari kecocokan jiwa. Maka biasakan dirimu bersama orang yang kamu anggap cocok supaya bisa mencintai. Masa iya ni’mat yang begitu indah engkau dustakan?



Ngopi Gus…



Baru saja turun dari masjid usai menunaikan sholat Jumat, tiba-tiba ponsel ku bunyi. Terlihat ada pesan WhatsApp (WA) masuk, tertulis ajakan ngopi dari seorang teman. Aku sanggupi saja karena siang ini aku sedang free, nggak ada kegiatan.

Satu jam kemudian aku telah sampai di tempat janjian. Kami membunuh waktu dengan ngopi, walau aku tak memesan kopi. Teman yang mengajak ku tadi sudah nampak sampai lebih dahulu. Dia duduk sendirian di kursi kantin itu, sambil asyik membaca bukunya.



“Wiiihhh rajinnya bapak calon ketua ini.. kereeen juga Bukunya”, Aku mengawali obrolan. Kupanggil dengan sebutan bro saja.



“Apa to Gus cuma Buku kayak gini aja kok”, jawabnya dengan kerendahan hati.

Dia memanggil ku Gus meski sebenarnya namaku bukan Gus, apalagi Gus pondok sama sekali bukan.



Sebelum melanjutkan obrolan ku dengan dia, aku memasan es dulu, meskipun cuaca agak mendung hanya ingin minum es saja siang ini. Si Bro ini membaca bukunya sambil mengajak aku berdiskusi ngalor ngidul urusan kuliah organisasi sampai pada urusan Tiiiiitttt (disensor), eeit jangan ngeres hanya soal wanita dan percintaan saja. Sampai akhirnya kita saling menasehati urusan cinta seakan-akan kita paling tahu urusan percintaan macam Profesor yang memberikan tips-tips teori cinta. Maklumlah naluri seorang Konselor, suka memberi nasehat padahal sama-sama jomblo. Hehe.

Agak lama kita ngobrol hari semakin sore, datang lagi seorang teman sebut saja “Tengil”. Postur tubuh dan gayanya pas dengan sebutannya, obrolan kami semakin asyik dengan kedatangannya Tengil, kali ini membahas hubungannya dengan pacarnya. Kata si Bro, Tengil ini sedang Purik’an (red. Jawa) alias ngambek gara-gara si Tengil suka ngilang nggak jelas.



“Nggaaakk… Nggak ngambek kok, udah baikan lagi Sekarang, kemaren udah ngajak foto-foto lagi pas di pantai”, kata si Tengil.



Ya dua hari sebelumnya mereka mengadakan Tafaqur Alam di makam wali, kemudian ke pantai sekaligus Follow Up kegiatan organisasi kemahasiswaan.



“Eh ya Gus, tak kasih tahu fotonya si dia kemaren waktu di pantai”, celetuk si Bro ingin memperlihatkan ku pada salah satu foto, yang di maksud adalah seorang gadis.



Namanya Sukma, artinya adalah nyawa. Seperti namanya, dia menjadi nyawa dalam hatiku dan membuatku mampu merasa mencintai lagi. Membangkitanku dari rasa trauma karena cinta. Gadis sederhana dengan senyum manis yang selalu di tutupinya dengan masker, entah apa yang membuat ku jadi menaruh harapan pada dia.

Lalu aku di perlihatkan foto-foto dokumentasi. Rihlah mereka banyak sekali aku melihat ada beberapa foto Sukma dan foto-foto lain.



“Sudah Bro, sudah,.. aku nggak kuat melihatnya, gak sanggup aku”, kataku.



Fikiran irasional ku muncul dan perasaan ku tak bisa di bohongi. Setelah melihat satu foto dimana dia foto dengan seorang teman laki-lakinya, bagi orang lain atau dia mungkin itu foto biasa, tapi cukup membuat hatiku berkecamuk seketika.

Aaahh… Allah ya kariiimm.. apa aku akan patah hati lagi, apa engkau ingin mengenalkan ku lebih dalam tentang cinta dengan jalur patah hati ini. Aku jadi minder karena memang kalah ngganteng dengannya.

Aku berusaha berpikir rasional, “laki-laki itu hanya kamu anggap sebagai teman”, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.



“Iyaa.. aku tahu foto itu, kemren udah di pakai Story WA sama Sukma, yang satunya yang ada captionnya agak gimana gitu. Nggak tau ta kamu?” Tanyaku pada si bro dan Tengil.



“Nggak tahu aku, ada lagi ya?”, Si bro menjawab pertanyaan ku.



“Ada lagi bro, ini Lo yang aku takutkan, Eezzt mbuh, gak kuat aku.”



“Hahaha.. santai Gus… masa iya bener ni mau patah hati sebelum jatuh cinta”, si Tengil menyahut dan meledekku.



“Tenang-tenang Gus, masa iya kalah sama adek kelas mahasiswa baru, hahaha”, kata Si bro sambil menenangkanku sambil sedikit mengejekku.



Mereka berdua sepertinya senang sekali melihat penderita ku, yang tersiksa oleh rasa minder. Huuft.

“Ihdina As-Shiroto Al-Mustaqim”..



Tiba-tiba Sukma datang dan memarkirkan motornya di depan kampus. Dia turun memandang kami yang sedang duduk bertiga. Dia melemparkan senyum meski senyumnya terbungkus masker lalu menuju kantin ini, Karena ini memang kantin yang berada di halaman kampus.

Aduuuhhh.. makin berkecamuk tak karuan hatiku, dalam fikirku aku harus bagaimana? Aku harus berbuat apa?



“Acaranya di atas mbak, temen-temen udah nunggu di atas”, tanya si Bro sembari menjelaskan kalau kegiatan yang dia urusi bertempat di lantai dua.



Sebelum keatas dia sempatkan ngobrol sebentar dengan Si bro dan Tengil. Entah apa yang di omongin sambil tertawa-tawa bertiga. Aku tidak fokus mendengar. Hati dan fikiranku berkecamuk. Ada rasa ingin menatapnya tapi malu. Tapi juga ada sedikit marah dan cemburu. Aaahh.. tau ah.. aku hanya diam saja sambil memainkan ponselku. Kemudian Sukma keatas menjalankan tugasnya sebagai pengurus organisasi kemahasiswaan. Ada kegiatan mahasiswa baru yang harus dia urusi. Aku sedikit lega meskipun sambil meratapi nasib.

Ya Roobb betapa aku tidak mampu mengartikan gejolak hati dan fikiran ku ini. ku teruskan ngobrol ku dengan dua orang teman ku, membahas laki-laki yang ada di foto bersama Sukma tadi.

Tiba-tiba laki-laki teman sukma itu datang untuk ikut kegiatan.



“Ketinggalan lo mas”, aku menimpalinya dengan berlaga tidak sedang terjadi badai dan tsunami di alam hatiku.



“Iya mas, dimana acaranya, di atas ya?”, Tanya dia. Lalu langsung saja dia menuju keatas, tempat kegiatan berlangsung.



Usai kegiatan, laki-laki teman sukma itu nyamperin kita bertiga yang masih ngobrol di kantin ini. Kita ngobrol ala kadarnya. Tak lama Sukma turun dan gabung dengan kami.

Aduuuhhh.. kumat lagi perang batinku, seketika aku diam tak berani menatap wajah Sukma, hanya berani melirik-lirik sedikit kulihat mereka berempat ngobrol dengan asyik. Aku hanya diam saja merunduk dan mulai memerah wajahku.

Aku di tanyai oleh sukma tapi entah apa aku lupa aku jadi tidak fokus memperhatikannya. Aku jadi gugup gemetar tak karuan perasaan ku ada ketidakrelaan melihat dia duduk disamping teman lelakinya itu dan mengobrol dengan asyik. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tanpa pamit aku langsung saja meninggalkan mereka berempat. Sambil berjalan aku bilang ke si Bro “Ashar dulu aku”, hanya alasanku saja untuk menenangkan diri, meredakan emosi dan perasaan ku.

Usai sholat, kembali aku menemui mereka, tapi aku hanya duduk diam tak banyak menyambung apa yang mereka obrolkan. Aku pura-pura sibuk membaca bukunya si Bro.

Aku masih terdiam membaca buku tapi aku berpikir sebenernya apakah dia tahu yang sebenarnya kalau aku menaruh rasa padanya. Apakah dia sengaja bikin aku cemburu untuk mengetes kesungguhan ku?

*****

Akal dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, keduanya punya fungsi dan cara kerja masing-masing, makanya meskipun akal sehat ku tahu kalau dia bukan pacarmu tapi tetap saja hati ku merasa cemburu. Karena mencintai bukan tentang logika, bukan pakai akal tapi pakai perasaan.

Aku yang hanya mampu duduk terdiam disampingnya sambil meredakan perih yang sangat di hatiku. Rasanya aku tak mampu menatap wajahnya, menyaksikannya bersenda gurau dengan teman lelakinya yang membuat ku cemburu itu.



“Deekk, aku cemburu dadaku sesak menyaksikan mu melempar senyum padanya”



Ingin sekali aku katakan seperti itu tapi hanya mampu dalam hati.

Ah… dasar aku ini, orasi dengan lantang di tengah kerumunan satpol PP saat turun Aksi Demontrasi saja berani, tapi kenapa pengen ngomong dengan lemah lembut didepamu aku tak punya nyali.. Allah ya Robiii…

Aku cukup mengeluhkan diriku yang saat ini. Huuft…

Hari sudah mulai gelap, teman lelakinya itu berpamitan duluan. Dia sudah tak nampak lagi di antara kita, sedikit membuat ku lega. Namun berselang tak begitu lama, datang lagi dua orang teman laki-laki. Aku mengenalnya. Dengan tingkah polah tengilnya, salah satu diantara dua teman laki-laki itu sengaja menggodanya. Aku hanya mampu melihatnya sambil tersenyum, pura-pura sibuk membaca buku. itu di anggap suatu kelucuan bagi si Bro dan Tengil, sebab hanya mereka berdua yang tahu bagaimana perasaan ku pada Sukma.

Si Bro dan Tengil tertawa lebih keras melihat dia digoda dan melihat ku dengan wajah penuh kecemburuan yang berusaha aku sembunyikan.



“Loooh, berani-beraninyaa”, kata si Bro yang sedang melihat Sukma di goda.



Tapi setelah itu mereka tertawa-tawa menyaksikan ini semua, tak tau bagaimana perasaanku.

Meskipun cuaca sore ini hujan deras dan suhu semakin dingin rasanya tetep saja hatiku panas. Mulak-malek kek Sempol di goreng.

Adzan telah berkumandang aku bergegas mengambil wudhu dan mengajak yang lain untuk segera magrib, akhirnya semua ikut bergeser ke mushola yang berada tak jauh dari kantin tempat kami ini.

Usai berjamaah magrib aku tengadahkan kedua tanganku walau sebelumnya aku bukanlah pendo’a yang meminta-minta agar engkau menjadi milik ku, aku hanya berdoa untuk di beri jalan yang terbaik bagi kita.

Kali ini dalam tengadah do’a, ku ucapkan Syukur pada-Nya mengenalkan ku pada rasa cemburu yang syahdu. Mengajari hatiku untuk tak terlarut dalam pilu.

Do’a telah kucukupkan, aku tak meminta banyak pada-Nya. Seperti diawal, aku hanya memohon yang terbaik saja. Kondisi di luar masih hujan, usai berdoa kita kembali ke kantin, dimana masih ada Sukma yang ternyata sedang berhalangan alias Libur sholat.



“Loh, kamu nggak sholat Sukma?”, Tanyaku untuk membuka percakapan yang sejak tadi aku menahan bicara dengannya. Meski sebenarnya aku paham alasannya kenapa dia tidak ikut sholat.



“Hehemmmm”, jawabannya dengan senyuman pelit dibibirnya sambil memandang layar android yang di Pegangnya.



Sambil menunggu hujan reda kita melanjutkan obrolan meskipun tak banyak yang kita bicarakan. Aku masih sedikit menahan bicara karena sebenarnya masih malu untuk memandang dan bercakap-cakap dengan dia.

Sepertinya hujan semakin deras, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19:17 WIB. Aku melihat Sukma berkemas merapikan tasnya dan memakai jaket merah kesukaannya.

Aku menduga dia akan pulang, karena sudah malam. Meskipun dia harus menerobos hujan yang masih deras, tapi aku diam saja tak mencegahnya dan tak bertanya dia mau kemana. Ternyata benar dia nekat menerobos hujan dan pulang.

Setengah jam kemudian kuberanikan bertanya lewat chat WA



“Kamu pulang?”, Tanya ku meski aku tahu dia pulang.



“Berangkat”, jawabnya ketus



“Ya pulang lah”, susul pesan WAnya yang belum sempat ku baca.



“Maksudku udah sampai rumah belum?”, tanyaku. Jawabnya sudah.



Kemudian dia menanyakan ada perihal apa kenapa aku menanyakan hal tersebut. Aku jawab saja tidak ada apa-apa walau sebenarnya aku khawatir dia kenapa-kenapa. Meskipun didepan banyak teman tadi ketika dia pamitan, aku berlagak biasa dan tega melihatnya pulang sendirian.

Aku hanya bisa begini, merasa bisa leluasa dan lebih berani ngobrol ngalor ngidul dengan Sukma hanya melalui pesan WA. Aku sendiri gagal faham kenapa bisa begini? Masa iya, seorang demonstran yang udah jadi sarjana turun nyalinya kayak anak SMA saat berhadapan dengan orang yang di cintainya. Ini baru berhadapan lho, apa lagi mengungkapkan perasaan.



“La Haula Wala Quwwata Illa Billah”

Tiada daya upaya melainkan dari mu Ya Allah..



Hujan tak reda-reda malam semakin larut. Untung saja kesedihanku tak sampai berlarut-larut. Suhu semakin dingin, belum sejam aku tak melihatnya, mulai muncul dalam hatiku perasaan rindu. Rindu yang tak kunjung sembuh meski telah ku obati dengan senyumnya yang teduh.

Aaahh.. hujan ini tak bisa di ajak bersahabat, hujan ini tak hanya mendatangkan basah tapi juga dingin, begitu pula cinta bukan hanya mendatangkan rindu tapi juga cemburu.

Hujaan reda lah…

sebentar kemudian reda dan aku pun pulang. Tapi ada yang masih belum reda selain hujan, yaitu rindu dan cemburuku.

Aku sudah sampai rumah dan masih ku lanjutkan ngobrol melalui WA sebentar, namun Sukma tak membalas, mungkin dia sudah tidur. Aku pun yang sudah berada diatas kasur dengan masih kedinginan, hanya bisa memeluk guling dan bayangannya. Aah.. jangan berpikir aku membayangkan yang aneh-aneh, hanya membayangkan senyum manisnya saja. meski pun terselip gelisah dalam hatiku

Apakah iya cintaku padanya terbalas? Apakah iya dia juga mencintai ku?.



“Lee… Tangi.. wis awan subuh po gak? “



Terdengar teriakan dari luar kamar, Suara dari seorang perempuan tua membangunkan ku untuk sholat. Ternyata sudah pagi lagi, kegelisahan yang mengantarkan aku tidur tadi malam ternyata masih ada.

Tapi aaahh.. Yang penting aku mencintainya, ku singkirkan sarung dan gulingku, bergegas aku untuk sholat subuh.



“Alhamdulillahilladhi Ahyana Ba’da Ma Amatana Wa Ilaihinnushuur; Jika Allah berkehendak mematikan sekaligus membangkitkan hambanya di kala tertidur, mana mungkin sepenggal cinta dalam hatinya tak mampu dihidupkannya”.*



Kamar tidur, 09 Februari 2018.

==========================

*mengutip sewindu satu cinta.

*Oleh: M. Widiyastana H.
Tuan Besar pimpinan jomblo dengan segudang pengalaman patah hatinya kemudian kini baru belajar ngoceh.

Dibawah Langit Bumi Wali


Penulis : Siti Nur Mukarromatun Nisa
Siswa SMP Plus Nu 02 Al Khikmah Soko, Tuban – Jawa Timur

Hamparan pasir putih terbentang luas. Berjumpa dengan ombak yang menenangkan. Berpadu dengan mega merah yang seakan bersatu dengan samudera. Ditemani hembusan angin yang merasuk ke pori-pori. Derap langkah semakin tenang, seakan tak perduli dengan rintangan dalam menjemput masa depan. Disini, dia menggandengku erat, tak mau melepas meski hanya sekejap.

Suasana semakin teduh seiring berjalannya waktu. Matahari telah melambaikan tangan untuk pergi.

Mega merah semakin cantik menemani perjalanan sang surya ini. Suasana inilah yang aku tunggu, sunset. Pemandangan yang amat kurindu di Pantai Boom Tuban. Pantai yang terletak di seberang makam waliyullah yang mulia, dimana kami selalu mengunjungi tempat ini setelah berziarah di makam Sunan Bonang.

Kami duduk di tepi pantai. Masih seperti tadi, dia enggan melepas tanganku. Mungkin lama tak berjumpa. Jarak memang telah memisahkan kami selama tiga tahun. Aku yang sekolah di Pulau Sumatera, baru bisa berkunjung setelah ujian usai. Tentu kesini, di Pulau Jawa, tempat kampung halaman orang tua, serta menanti waktu untuk bersua dengan dia. Rasanya tak pernah reda aku bahagia, dengannya disini.

“Jadi ingat waktu dulu ya dek!,” katanya sambil menatap langit sore itu.

“Masih sama. Tidak banyak yang berubah”.

Aku hanya terdiam sambil mendengarkan ucapannya yang terdengar lembut padaku. Kemudian kami beranjak menuju relief kisah Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang berada setelah pintu masuk pantai ini.

“Dek, yang diujung utara itu menggambarkan Raden Said yang menyedekahkan hasil rampoknya untuk orang tidak mampu,” jelasnya seraya menunjuk gambar tiga dimensi itu.

“Dari kisah itu, kita dapat mengambil pelajaran kehidupan bahwa perbuatan yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Meski niatnya baik tapi prosesnya buruk, itu tetap tidak diperbolehkan dalam Islam,” sambungnya.

Dia memang selalu menerangkan sebelum aku mengajukan pertanyaan.

“Suatu hari Raden Said bertemu dengan Sunan Bonang. Mata Raden Said berbinar ketika melihat tongkat emas Sunan Bonang. Sontak Raden Said meminta tongkat tersebut. Sunan Bonang menunjukkan buah emas yang bergelantungan di pohon sebelahnya. Sontak Raden Said pun memanjat untuk memetik buah-buah itu. Namun ketika berada di atas buah itu berubah menjadi buah biasa. Buah yang dikenal dengan nama kolang kaling.

Raden Said turun kembali dan protes kepada Sunan Bonang. Lantas Sunan Bonang menunjuk lagi ke atas dan buah kolang kaling itu nampak seperti emas. Raden Said langsung tergugah dan menaiki pohon itu. Tapi setelah berada di atas emas itu berubah lagi menjadi buah kolang kaling biasa. Kejadian ini terjadi hingga tiga kali.

Karena tidak sabar, Raden Said akhirnya mengambil tongkat emas itu. Menyebabkan Sunan Bonang terjatuh dan menangis. Raden Said kaget, padahal tidak ada luka pada diri Sunan Bonang.

“Wahai orang tua, mengapa anda menangis? Padahal tak ada satupun luka pada diri anda,” tanya Raden Said cemas.

“Aku menangis bukan karena rasa sakit tapi karena rasa bersalah, sebab aku hampir saja menginjak semut,” jawabnya.

Jawaban Sunan Bonang membuat hati Raden Said luluh. Padahal semut itu tak terinjak. Saat itu iuga Raden Said meminta maaf dan ingin berguru dengan Sunan Bonang.

Nah itu arti relief yang kedua,” terang Kak Syafi’.

Dengan menerawang ke angkasa, dia melanjutkan kisah itu. Relief selanjutnya menunjukkan pengabdian Raden Said terhadap gurunya. Dia bertapa di tepi sungai hingga Sunan Bonang kembali. Bertahun-tahun lamanya Sunan Bonang meninggalkan muridnya hingga ia lupa bahwa seorang muridnya menunggu dalam pertapaan. Setelah beberapa tahun, akhirnya Sunan Bonang ingat akan muridnya tersebut. Segera dia menemuinya. Terlihat tubuhnya telah menyatu dengan tetumbuhan. Dibangunkannya murid itu dari pertapaan suci.

Sejak itulah Raden Said memiliki julukan Sunan Kalijaga. Sunan yang termasuk wali sembilan.

Kami meneruskan langkah. Hingga terhenti oleh pertemuan Kak Syafi’ dengan temannya.

“Stop! Jangan kesana, berbahaya!” cegah lelaki tinggi ini.

Karena penasaran ada apa di belakang sana, aku mengintip untuk melihatnya. Kak Syafi’ segera menutup mataku yang masih berusia lima belas tahun. Tapi terlambat aku sudah mengetahuinya.

“Seharusnya nggak usah ngintip dek,” tegas Kak Syafi’.

“Sudah terlanjur. Toh aku juga tidak tahu kalau banyak orang pacaran di sana,” sanggahku.

“Ini pacarmu? Cantik sekali, hhhh,” lelaki itu mempertanyakan hal yang membuatku tidak nyaman.

“Dalam agama telah diterangkan dengan jelas, la taqrobuz zina, jangan mendekati zina,” tegas Kak Syafi’.

“Lalu gandengan tangan itu? Apakah itu halal?” tanyanya menunjuk tangan kami.

Sontak kami melepas tangan satu sama lain.

“Gandengan kami halal. Sebab kami sedarah. Dia adikku bro, Shasa. Anak kecil yang sering kau goda dulu,” jelas Kak Syafi’.

Sepertinya Kak Syafi’ juga risih dengannya.

“Hah, Shasa? Gadis mungil itu?

Cantik sekali sekarang. Setelah tiga tahun tak bertemu, ternyata dia semakin cantik,” kagetnya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Senyum terpaksa. Sekejap dia pamit dan meminta maaf.

“Tragis ya Kak, kita hidup di lingkungan wali dan ulama namun banyak saudara kita yang tak memiliki akhlak seperti nenek moyangnya,” ucapku seraya duduk di tepi pantai.

“Maka dari itu, kita harus membuat perubahan. Innal insana lafi khusrin illal ladzina amanu wa amilus shalihati wa tawa shawbil khaqqi wa tawa shawbis shabr, sesungguhnya manusia benar-benar merugi kecuali yang beriman, beramal shaleh dan saling menasihati supaya menempati kebenaran,” tuturnya.

“Ngunu a?” kataku memastikan dengan bahasa jawa.

“Serius dek aku”.

Aku tersenyum mendengarnya dan melihat wajah kesalnya.

“Bangga ya Kak, bisa hidup di kota yang memiliki julukan bumi wali,” kataku.

“Ini saatnya aku bercerita tentang sejarah Bumi Wali. Kamu pasti belum tahu kan?” remehnya.

“Siapa bilang aku nggak tahu. Emang kakak doank yang tahu sejarah, aku juga tahu,” kesalku.

Dia malah tertawa dan mecubit pipiku seraya berkata”gitu aja manyun, senyum donk nanti cantiknya berkurang”.

Aku memukuli pundaknya. Kesal yang bercampur senang ada dalam diriku setelah lama menghilang.

“Di Tuban banyak makam para wali, juga kisah-kisah perjuangan beliau. Seperti kisah Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga,” ujarku.

“Contoh yang lain seperti makam auliya Syekh Gentaru, Tuwiri Wetan, Merakurak, Syekh Ahmad bin Muhammad Ar Rozi di Bangilan, Mbah Jabar dan Mbah Ganyong di Singgahan, Mbah Bongok di Jetak Montong,” sambungnya dengan semua pengetahuan sejarah.

“Lohh, aku kok nggak tahu. Pokok besok kakak harus ajak aku ziarah kesana”.
“Boleh, apa yang nggak kakak lakukan untuk adik kakak yang cantik ini,” katanya sambil mencubit hidingku gemas.

Aku memeluknya erat dan berkata,”syukron kastir ya akhi kabirun”.

“Afwan ya ukhti shaghirun,” jawabnya.

Terlihat matahari telah tersenyum sebelum mengucapkan sampai jumpa pada kami. Kami segera berpose di bawah langit indah ini. Bertemankan perahu-perahu warna-warni milik nelayan. Di bawah langit merah orange bumi wali.

Kami melangkah untuk pulang. Terdengar suara adzan maghrib menggelegar. Kami mempercepat langkah untuk segera menunaikan kewajiban shalat.

Aku menggandeng tangannya erat karena takut. Ketika baru keluar dari Pantai Boom, ada orang mabuk. Dia sudah seperti orang gila. Berteriak-teriak tak tentu arah.

“Jangan takut, ada Allah. Ayo cepat,” tenang Kak Syafi’.

Dia menggegamku erat dan mengajak setengah berlari. Aku lihat orang itu memukul orang di sebelahnya hingga terjadi perkelahian. Sungguh susana yang begitu kejam. Suasana yang tak pernah aku lihat. Tapi banyak terjadi disini.

Usai shalat maghrib, Kak Syafi’ mengajakku makan. Di dekat makam Sunan Bonang banyak berjejer kios makan dan jajanan khas Tuban. Kami memilih tempat makan di dekat Masjid Agung. Sengaja, agar jika sudah maduk waktu isya’, kami langsung bisa shalat. Menu kesukaan kami dari dulu tak pernah berubah, ikan cumi dan kepiting merah. Aku selalu merindukan makanan ini saat di Sumatra.

“Kak, Tuban berjulukan sangat mulia, Bumi Wali tapi mengapa di sisi lain Tuban juga disebut sebagai Kota Toak, yang orang-orangnya berkepribadian jauh dari kepribadian para wali.”

Entah aku terpikir untuk melontarkan pertanyaan itu. Kak Syafi’ tersenyum. Mungkin dia senang aku bertanya, sebab aku jarang sekali bertanya tentang sejarah. Lagipula tanpa aku bertanya Kak Syafi’ sudah menjelaskannya.

“Memang ada yang mengatakan seperti itu dan bangga mempunyai julukan itu. Beda orang pasti beda pemikiran. Jika sudah seperti itu maka solusinya kembali ke surat al ashr, kita diperintah untuk saling mengingatkan. Mengingatkan dengan cara yang baik maka insya Allah hasilnya akan baik. Tugas kita adalah menghapus julukan Kota Toak itu. Namun bukan hanya julukannya tapi juga moralnya,” jawab Kak Syafi’ lugas.

“Allahu akbar…Allahu akbar…”

Beberapa saat kemudian terdengan adzan isya, kami segera mengambil wudhu dan shalat. Dalam do’a aku lantunkan permohonan untuk sebuah penjagaan moral, yang telah diakarkan utusan-utusan-Nya. Sebab bukan bom atom ataupun pedang, tapi do’a yang menjadi senjata umat islam.

Kami pulang. Di perjalanan mataku sudah tak kuat lagi menahan kantuk. Kepalaku kusandarkan di pundak Kak Syafi’. Kurasakan tanganku ditarik olehnya dan didekapkan dengan perutnya agar aku tidak terjatuh. Dalam remang-remang sadarku, kudengar dia berkata,”tidurlah dan mimpilah!. Setelah itu tunaikan kewajibanmu untuk berdakwah di jalan-Nya. Mengajak saudaramu untuk masuk jannah-Nya bersama-sama. Tidurlah!

Cerita Pendakian Gunung Merbabu via Selo


Assalamualaikum

Teman-teman perkenalkan nama saya Arif Sudaji. Kali ini saya akan berbagi cerita yang bisa membuat bulu kuduk kalian berdiri. Cerita ini saya alami saat pendakian yang kesekian kalinya dengan Sepupu saya yang bernama Ihdinan Naim. Kami setunggal embah (nenek) dari ibu.

Tepat bulan September 2018 kami berangkat berdua dari rumah mbah kami. Selagi pamitan, kami dibekali makanan untuk bekal perjalanan nanti.

Pukul 09.00 wib. Kami berdua berangkat dari rumah, jarak tempuh kami memakan waktu empat jam dan disetiap satu jam kami istirahat, dikarenakan kami boncengan menggunakan sepeda motor serta bawaan kami dua tas carrier ukuran 60 ltr, penuh perlengkapan mendaki. Perjalanan kami sama seperti pendaki pada umumnya, namun satu yang berbeda. Tak perlu kujelaskan karena dengan itu kami percaya akan mampu berjaga-jaga setiap ekspedisi kami.

Tiba di Kabupaten Boyolali pukul 13.30 wib. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke base camp Selo sampai 15.00 wib. Sebelum mengisi simaksi (surat izin masuk kawasan pendaki) kami sempatkan mampir di base camp Pak Subari yang terkenal itu. Kami membeli segala keperluan logistik untuk bekal mendaki nanti.
Wisata pendakian memang tak memakan uang banyak, cukup membayar 10.000/orang, kita sudah bisa sepuasnya menghabiskan waktu mendaki sampai puncak, asal membawa bekal yang cukup .

Perjalanan kami mulai dari pos satu berjalan dengan biasa-biasa saja. Waktu pada kala itu sudah hampir pukul 16.00 wib, karenanya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di pos dua sambil ngobrol-ngobrol sembari menikmati rokok, karena perjalanan masih jauh.

Tak terasa hampir 45 menit kami beristirahat, langit pun sudah mulai gelap. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan meski hari sudah sore.

Perjalanan antara pos 1 – 2 memakan waktu sekira 1 jam 45 menit dan itu kami tempuh ditengah hutan hanya berdua saja. Memang tak ada yang janggal selama kami berjalan naik turun. Kanan kiri pepohonan kanan jurang yang dalam tak tahu berapa kedalamanya.
Ditengah perjalanan antara pos 1-2 gelapnya langit menyapa dan kami memutuskan istirahat serta untuk sembahyang (sholat). Kami tayamum karena tidak ada air di sekitar area berhenti. Selesai sholat kami beristirahat. Sambil nyemil bekal yang kami bawa, aku mengambil senter untuk membunuh pekatnya malam kala itu.

“Perjalanan Hampir sampai pos dua. Kita tidak boleh mengeluh meskipun sudah letih,” kataku.

Dalam perjalanan mendekati pos dua, aku mendengar beberapa suara dari atas. Ternyata teman-teman pendaki lainnya sudah ada disana. Bertemu dengan pendaki lain seakan memberi energi baru dan memotivasi diriku untuk menuntaskan pendakian ini sampai ke puncak.

Kami istirahat secukupnya di pos dua lalu melanjutkan hingga pos tiga. Jarak pos dua ke pos tiga itu memakan waktu satu jam. Perjalanan kami tempuh melewati hutan, dengan kemiringan 45°. Bisa bayangkan nggak teman-teman? Malam hari, bawaan berat berjalan berduaan. Dan tidak ada siapa-siapa lagi. Tapi semangat tidak boleh padam. Keep going on!

Sungguh berat sekali malam itu, entah kenapa. Ini bukan pertama kali kami summit malam-malam seperti ini. Kala itu aku memakai jeans casual robek-robek dilutut (biasa anak muda). Hingga pada akhirnya aku merasakan sesuatu yang mengganjal. Setiap sepuluh menit perjalanan, nafasku selalu terengah-engah.

“Mas mas! break break mas,” kataku sambil terengah.

“Iyo dek,” kata mas naim dalam Bahasa Jawa.

“Berat mas,” kataku berbicara pada Mas Naim.

Pendakian malam itu terasa berat sekali. Namun tak pikir panjang, setelah mendapatkan istirahat yang cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali. Namun terulang lagi, aku meminta break karena berat sekali entah kenapa pada saat itu. Padahal pos tiga sudah terlihat.

Akhirnya aku putuskan untuk ganti celana dari jeans robek kebanggaanku tadi dengan celanaku yang lain. Kali ini jenisnya parasut. Ternyata setelah ku ganti celana, langkahku semakin enteng. Apakah berat jenis celana mempengaruhi pendakian ini pikirku. Atau mungkin karena faktor kelelahan, juga sepinya berjalan berdua ditengah hutan.

Akhirnya tepat pukul 22.00 wib kami sampai di pos tiga dan disambut puluhan tenda berdiri dengan suara dengkuran di dalamnya. Hahaha!

Kami dirikan tenda dan bongkar-bongkar perlengkapan, kemudian memasak dari bekal yang kami bawa tadi lalu istirahat. Malam ini aku putuskan istirahat untuk mengisi tenaga guna melanjutkan pendakian keesokan harinya.

Bersambung…



penulis: Arif Sudaji